Senin, 04 Mei 2015

Dunia di atas naungan doa



Dua hari menjelang masa aktif kuliah di semester dua, aku bersama beberapa teman yang tidak pulang ke kampung halaman; Nursabila, Naimah, Khairina, Yuyu, Rifai, Rahmat, Nanang, Munir, Syarif, Faisal diminta oleh ust. Agus Santoso untuk senam bersama. Dulu, saat matrikulasi kami mendapatkan materi tentang senam sholat, senam yang dipelopori oleh bapak Mufidi  ini diambil dari gerakan-gerakan sholat. Bapak Mufidi ini sengaja didatangkan dari Jakarta untuk menyampaikan penemuannya kepada kami mahasiswa beasiswa dari kementrian agama. Senam sholat ini terus kami kembangkan dan kami sampaikan kepada orang lain, dan saat ini kami melaksanakannya secara rutin bersama para dosen fakultas dakwah dan komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya setiap hari jumat pukul 09.00 wib.
Selain mengajak senam sholat bersama, ustadz Agus juga mengajak kami kerja bakti di fakultas dakwah dan komunikasi. Karena belum masuk waktu aktif kuliah, jadi fakultas nampak sangat sepi, jumlah pengunjung fakultas saat itu sekitar 10-20 orang saja. Hanya ada para pegawai dan beberapa dosen yang memiliki kepentingan saja yang ada di gedung fakultas. Tak sengaja
aku bertemu dengan prof. Ali,sungguh malu saat bertemu, pakaian yang aku pakai sangat sederhana dengan celana training dan kaos selayaknya orang senam, namun
beliau berpakaian sangat rapih. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama setelah sekitar dua bulan kami tak berjumpa. Prof.Ali tetap dengan senyum khasnya yang tak dimiliki oleh siapapun, memang saat itu beliau membawa sapu tangan sepertinya keadaan beliau sedang kurang sehat, namun pancaran mata dan aura wajahnya selalu memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepada siapa saja yang bertemu dengannya, seolah-olah beliau berkata sakit ini adalah rizqi saya mengapa tidak saya syukuri dan nikmati.
“ Bertemu lagi dengan saya yah semester ini?” Tanya beliau kepadaku. “Iyah prof, tafsir bki”, jawabku. “wah..lebih berat itu mah, gak apa-apa kalo mati karena mencari ilmu mati syahid toh” jawab beliau dengan serius.Namun tak lepas dengan senyum penyemengat para mahasiswa. Jawaban yang benar-benar membakar, sontak aku tertawa dengan jawaban beliau. Tantangan apalagi yang akan beliau kasih, gumamku dalam hati. Beliau berkata seperti itu tapi beliau juga yang mengajarkan bahwa tidak ada yang sulit kalau kita meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Entah kebetulan atau tidak, sejak semester lalu mata kuliah prof.Ali selalu saja ada pada hari senin, hari pertama setelah libur akhir pekan. Itu juga berarti, hari pertama pada masa kuliah semester 2. Selalu tugas pertama adalah tugas dari prof.Ali.



 



Hari pertama kuliah, sesuai dengan jadwal hari pertama kuliah di semester dua ini adalah tafsir bimbingan konseling dan masih bersama prof.Ali. Seperti biasanya, diawal perkuliahan bukan prof.Ali jika tidak membakar semangat para mahasiswanya terlebih dahulu. Setelah beliau rasa semua mahasiswanya sudah sagat sangat siap menerima materi barulah beliau masuk pada inti perkuliahan. Diawali dengan kata pengantar menegnai tafsir, awalnaya kipikir kita akan hanya sekedar menerima materi dan penyusunnya menjadi sebuah makalah seperti pembelajaran yang lalu, tapi ternyata ini sangat berbeda.
Prof.Ali memang tak pernah mau kita menjadi manusia ecek-ecek, pada mata kuliah ini, ternyata kitalah yang punya andil dalam menafsirkan ayat-ayat konseling. Munasabaha! Ya munasabah namanya, mencari kesinambungan satu ayat dengan ayat lain. Ah, gampang sekali itu mah, contoh yang beliau kasihpun bisa kujawab semuanya, tapi sayanagnya contoh yang beliau kasih adalah surat al fatihah jadi sudah jelas itu cukup mudah. Sampai saat ini aku belum menemukan titik sulit seperti yang prof.Ali sudah katakan.
Masuklah pada munasabah ayat-ayat yang harus dibahas. Ayat pertama tentang dasar-dasr kewajiban dakwah QS Ali Imran ayat 104, lolos ! bisaku kulalui. Masih belum kutemukan titik awal mati syahidnya. Hingga pada ayat ketiga ternyata terbukti, mencari munasabah itu memang tidak bisa hanya sekedar tau arti saja.
Beliau membagi kami menjadi 3 kelompok untuk menafsirkan semua ayat dari tafsir yang berbeda. Pilihan yang diberikan adalah tafsir al munir, al azhar, dan ibnu katsir. Karena itu adalah pilihan jadi kita berhak memilih sesuai keinginan kita, dan pilihanku jatuh pada tafsir ibnu katsir, entah kenapa akupun tak tahu mengapa memilih ibnu katsir.
Kata mutiara yang beliau tebar hari ini:
·         Hidup ini seperti naik sepedah kalau kamu berhenti kamu terjatuh.
·         Jika anda tidak beragama dengan ceria, apa kata orang non islam?
·         Lihatlah wajahmu di cermin, pipimu merah karena kamu suka marah dan wajahmu berkerut karena kamu selalu cemberut.
Setelah membagi manjadi kelompok, pak prof memberikan silabus materi kepada kami, semua nya ada 46 ayat yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling. Kami diberi waktu satu minggu untuk mengerjakan itu semua. Berikut munasabah dan tafsirnya sesuai dengan format penulisan yang sudah beliau tetapkan.
Anggota kelompok tafsir ibnu katsir terdiri dari 10 orang, yaitu; Mohammad Mizan Asrori (ketua kelompok), Ahmad Rifai Sinaga (editor), Kurniawan (anggota), Rahmat Hidayat (anggota), Rifqi Muhammad Nur (anggota), Syarif Hidayatullah (anggota), Iva Umi Agustina (anggota), Murni Janwar (anggota), Nadia Nafisah Fauziyah (anggota), dan saya sendiri Zahra Nisaul Azizah (anggota). Siang hari setelah selesai kuliah kami semua pergi ke perpustakaan kampus bersama-sama untuk mencari referensi.
“ untuk tafsirnya kalian tidak boleh mengurangi atau merubah satu katapun dari kitab tafsirnya, tulis saja apa sesuai dengan apa yang ada dalam kitab tafsirnya.” Pesan pak prof untuk tugas kami.
Sebelum kami mulai mencari referensi, kami bagi-bagi tugas terlebih dahulu. Bagian tugasku adalah sifat negative manusia dengan sub bab mengedepankan nafsu al fujurah (QS As syams[91]; 7-10), nafsu sawwalah (QS Yusuf[12]: 18,83), nafsu lawwamah (QS Al qiyamah [75]:2) dan tergesa-gesa (QS Al Anbiya [21]: 37).
Tidak hanya kami dari kelompok ibnu katsir yang sibuk mencari referensi, tapi disana juga ada kelompok al azhar dengan anggota; Nanang Supratna, Ahmad Munir, Tri Anita Jumaroh, Nur Faega, Naimatul Mardiyah, Norma Majid, Fiska Emila, Dinda Rizki Novia, Khairina Afriza, dan Hafisa Idayu. Kami juga berjumpa dengan kelompok tafsir al munir dengan anggota; Jajang Supriatna, Rhmat Faisal Nasution, Muhammad Khairul Fikri, Muhammad Alghifari,Ahmad Jadulhaq Halim Nursabila, Siti khairunnisa, Lia Lutfiana Febriayanti, Sofiatul Jannah, Rafikah.
Setelah mulai megerjakan tugas ini, ternyata aku baru isa membuktikan bahwa mencari munasabah itu tidak semudah yang dibayangkan. Untuk mencari munasabah surat As Syam itu samapai 4 hari baru aku temukan, itu pun sudah aku tanya ke semua anggota kelompok, namun tidak semudah mencari munasabah surat al fatihah. Tetapi ada feel yang berbeda, walaupun entah jawaban ini benar atau salah , tapi usaha saya 4 hari berfikir bisa lahir juga munasabah.
Saya bagi hasil pemikiran saya selama 4 hari itu.
Munasabah
Pada surat Asy-Syam ayat 8 Allah menjelaskan bahwa manusia diilhamkan jalan ketaqwaan dan jalan kejahatan, sebagai penjabaran dari ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan ciptaan-Nya.

Tafsir
Dalam pembukaan surat Asy-Syams Allah SWT menyuruh kita memperhatikan suasana alam ketika matahari terbit hingga terangnya cahaya sepanjang hari kesibukan semua makhluk hidup, kemudian ketika matahari terbenam diikuti dengan terbitnya bulan dan suasana gelap, demikian pula bangunan langit yang sedemikian agungnya serta bumi yang datar dengan memberi semua kebutuhan manusia dan binatang. Kemudian sampai pada kejadian manusia dengan berbagai bakatnya untuk berbuat kabaikan atau kejahatan, maka untunglah orang yang sempat memperbaiki dirinya dan tidak menurutkan syahwat hawa nafsunya. Dan akan kecewa rugi orang yang membiarkannya dalam kotoran kejahatan dan kufurnya karena ingin memuaskan hawa nafsunya.
            Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُوْلَدُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تَحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Tiap anak yang lahir dalam fitrah kebersihannya maka didikan ayah bundanya yang menjadikan ia Yahudi, atau Kristen (Nasrani) atau menjadi sebagaimana keadaan binatang  lahir sempurna apakah ada yang kamu dapatkan sudah  terpotong hidung atau telinganya.” (HR. Bukhari, Muslim dari AbuHurairah)
Abul Aswad Addlily berkata, Imran bin Hushain r.a. bertanya kapadaku, “Bagaimana pendapatmu tentang usaha dan perjuangan manusia dalam kehidupan ini apakah semua itu telah ditakdirkan oleh Allah SWT dalam azal atau suatu yang baru yang akan dijadikan hujjah terhadap mereka ?” jawab Abdul Ashwad, “Itu semua sudah diputuskan dalam azal.” Lalu bertanya, “Apakah yang demikian itu tidak masuk zalim aniaya?” Abdul Ashwad berkata, maka aku merasa sangat takut, dan langsung saya jawab, segala sesuatu milik Allah SWT dan ciptaan-NYa, Allah SWT  tidak boleh atas semua ciptaan dan buatan-Nya, sedang makhluk akan ditanya. Imran bin Hushain berkata kepadaku, “ Semoga Allah SWT tetap memimpinmu kepada jalan yang benar, aku bertanya hanya untuk menguji akalmu.”
            Dahulu ada seorang dari suku Juhaniah atau Muzainah datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah SAW apakah usaha perjuangan manusia ini sesuatu yang yang telah ditakdirkan Allah SWT atas mereka, atau memang usaha mereka terhadap sesuatu yang masih belum diketahui untuk dituntut dan dijadikan bukti?” Jawab Nabi SAW,  “Bahkan semua itu telah ditakdirkan Allah SWT atas mereka.” Dia bertanya pula demikian maka untuk apakah kita berusaha beramal? Jawab Nabi: “Siapa yang dijadikan untuk sesuatu maka tersedia baginya fasilitasnnya, bakatnya sebagai firman Allah SWT : “Qad aflaha man tazakkaa ha waqqad khaa ba man dassaahaa wanafsin wa maa sawwahaa fa’alhamahaa fujuu raha wataqwaahaaa. Dan jika manusia serta segala kejadiannya. Maka Allah SWT mengilhamkan takwa dan kecurangannya. Sungguh bahagia orang yang membersihkan dirinya dan rugi kecewa yang mengotorinya (dengan maksiat dan pelanggaran).
Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “Biasa Nabi SAW jika membaca ayat ini lalu ia berhenti dan berdoa:
اللّهمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوُاهَا وَزَكِّهَا اَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا اَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Ya Allah berilah pada diriku takwanya, dan bersihkanlah Engkau sebaik-baik yang membersihkannya. Engkau, Tuhan yang memimpin dan melindungi.” (HR. AtThabrani)
Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah
            Zaid bin Arqam berkata, “Rasulullah SAW biasa membaca doa, “Allahumma inni a’uudzubika minal ajzi wakkasl walharam waljubni wal bikhli wa adzzaa bil qabri. Allahumma aata nafsi taqwaa haa wazakki haa anta khaitu man zakkaa haa anta waliyyuhaa wamaulaa haa. Allahumma inni a’udzubika minaqlbin laa yakh syaa wamin nafsin laa tasy ba’ wa ilmin laa yanfa wada’watin laa yuss tajaa bu lahaa”. Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan malas dan tua dan penakut dan bakhil (kikir) dan siksa kubur. Ya Allah berikan kepada diriku takwanya dan bersihkan Engkau sebaik-baik yang membersihkan, Engkau pemimpin dan pelindungnya. Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk dan nafsu yang tidak bisa kenyang dan ilmu yang tidak berguna dan doa yang tidak diterima. Zaid bin Arqam berkata, “Rasulullah SAW mengajarkan do’a itu kepada kami dan kami mengajarkannya kepada kamu.” (HR. Muslim)
Kesimpulan
Salah satu sikap negatif manusia adalah mengotori dirinya dengan kejahatan dan kufur hanya karena ingin memenuhi hawa nafsunya.


            System kuliah pak prof masih sama seperti semester sebelumnya, ujian dilakukan setiap minggu. Baru saja 3 minggu kami membahasa materi minggu keempat sudah masuk pada ujian.yang paling menakjubkan adalah ujian pertama kita dari tafsir al munir, yang berbahasa arab itu. Subhanallah… bacanya saja wallahu a’lam bisa atau tidak bagaimana mau mengerti isinya. Seperti ini kira-kira materi ujian kami.

الباب الأوّل
وجوب الدعوة الأساسي


1.                  وجوب الدعوة
"وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون"(104)
﴿آل عمران 3/ 104﴾

المناسبة
هذه الآيات كالشّرح لقوله تعالى: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا فشرح الاعتصام بحبل الله بقوله: وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ وشرح وَلا تَفَرَّقُوا بقوله: وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا «1» . أمرنا تعالى بالاعتصام بالقرآن والتّمسك بالدّين، ونهانا عن التّفرّق والاختلاف، ثمّ بيّن لنا سبيل الاعتصام بالدّعوة إلى الخير والأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر، فهذه تذكّر بالله وباليوم الآخر، وترشد إلى الإسلام، وتعصم من الزّيغ والانحراف، بقصد الحفاظ على وحدة الأمة، وترشد أبنائها، وتكثير سوادها بالأتباع الذين يؤمنون بدعوة الإسلام، وتضامن الأفراد في كلّ ما هو حضاري يؤدّي إلى القوة والتقدّم والسّمو، روى مسلم وأحمد حديثا معروفا عن النّعمان بن بشير هو:«مثل المؤمنين في توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم، مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو، تداعى له سائر السجد بالحمّى والسّهر» .
وروى البخاري ومسلم والتّرمذي والنّسائي عن أبي موسى الأشعري: «المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدّ بعضه بعضا»

التفسير و البيان
يأمر الله تعالى الأمة الإسلامية بأن يكون منها جماعة متخصصة بالدعوة إلى الخير والأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر، وأولئك الكمّل هم المفلحون في الدّنيا والآخرة.
وتخصص هذه الفئة بما ذكر لا يمنع كون الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر واجبا على كلّ فرد من أفراد الأمّة بحسبه، كما ثبت في صحيح مسلم عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «من رأى منكم منكرا فليغيّره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان»، وفي رواية: «وليس وراء ذلك من الإيمان حبّة خردل» .
وروى أحمد والترمذي وابن ماجه عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أنّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال: «والذي نفسي بيده لتأمرنّ بالمعروف، ولتنهون عن المنكر، أو ليوشكنّ الله أن يبعث عليكم، عقابا من عنده، ثّم لتدعنّه فلا يستجيب لكم» .
وكان الواحد من السّلف الصالح لا يتوانى في هذا الواجب، ولا يخشى في الله لومة لائم، فقد خطب عمر على المنبر قائلا: «إذا رأيتم فيّ اعوجاجا فقوّموه» فقام أحد رعاة الإبل، وقال: لو رأينا فيك اعوجاجا لقوّمناه بسيوفنا.
ولا تكونوا أيّها المؤمنون كأهل الكتاب الذين تفرّقوا، في الدّين، وكانوا شيعا، واختلفوا اختلافا كثيرا، من بعد ما جاءتهم الأدلّة الواضحات التي تهديهم إلى السبيل لو اتّبعوها، لأنهم تركوا الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر، فاستحقّوا العذاب العظيم في الدّينا والآخرة، أما في الدّنيا فيجعل بأسهم بينهم شديدا، ويذيقهم الخزي والنّكال، وأما في الآخرة ففي جهنم هم فيها خالدون، ونظير هذه الآية قوله تعالى: لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرائِيلَ عَلى لِسانِ داوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، ذلِكَ بِما عَصَوْا وَكانُوا يَعْتَدُونَ، كانُوا لا يَتَناهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ، لَبِئْسَ ما كانُوا يَفْعَلُونَ [المائدة 5/ 78- 79].

النتيجة
أ‌-        الد عؤة  حكمه فرض كفاية
ب‌-    واجب لكل فرد الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر
ت‌-    سخط الله على من لا ىأمر بالمعروف وينهون عن المنكر
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (110) ﴿آل عمران 3/ 110﴾

المناسبة
هذه الآيات تثبيت للمؤمنين على ما هم عليه من الاعتصام بالله والاتفاق علىالحق والدعوة إلى الخير، وهي أيضا ترغيب لهم في المحافظة على مزيتهم باتباع الأوامر وترك النواهي، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والإيمان بالله، وأعقب ذلك بمقارنتهم بحال أهل الكتاب وبيان سبب إلحاق صفة الذل بهم والغضب عليهم.

التفسير و البيان
يخبر الله تعالى عن الأمة الإسلامية بأنها خير الأمم في الوجود الآن، ما دامت تأمر بالمعروف، وتنهى عن المنكر، وتؤمن بالله إيمانا صحيحا صادقا كاملا. وإنما قدم الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر على الإيمان لأنهما أدل على بيان فضل المسلمين على غيرهم، ولأن الإيمان يدعيه غيرهم، وتظل الخيرية والفضيلة لهذه الأمة ما دامت تؤمن بالله حق الإيمان وتأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر.
وأما الأمم الأخرى فقد غلب عليهم تشوية حقيقة الإيمان، وشاع فيهم الشر والفساد، فلا يؤمنون إيمانا صحيحا، ولا يأمرون بمعروف، ولا ينهون عن منكر.
والإيمان المطلوب: هو الموصوف بقوله تعالى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْتابُوا، وَجاهَدُوا بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات 49/ 15] وقوله أيضا: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ، وَإِذا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ، زادَتْهُمْ إِيماناً، وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ [الأنفال 8/ 2] .
وفي قوله: تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ جعل الإيمان بكل ما يجب الإيمان به إيمانا بالله لأن من آمن ببعض ما يجب الإيمان به من رسول أو كتاب أو بعث أو حساب أو عقاب أو ثواب أو غير ذلك، لم يعتد بإيمانه، فكأنه غير مؤمن بالله، كما قال تعالى: وَيَقُولُونَ: نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ، وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ، وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلًا، أُولئِكَ هُمُ الْكافِرُونَ حَقًّا [النساء 4/ 150- 151] . والدليل عليه قوله تعالى: وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ مع إيمانهم بالله، لكان الإيمان خيرا لهم مما هم عليه لأنهم إنما آثروا دينهم على دين الإسلام، حبا للرياسة، واستتباع العوام، ولو آمنوا لكان لهم من الرياسة والأتباع، وحظوظ الدنيا ما هو خير مما آثروا دين الباطل لأجله، مع الفوز بما وعدوه على الإيمان من إيتاء الأجر مرتين.
هذه المقومات والأوصاف من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والإيمان الحق بالله وبعناصر الإيمان الأخرى هي سبب الفضيلة والخيرية، ولا تثبت للأمة إلا بمحافظتها على هذه الأصول الثلاثة، روى ابن جرير عن قتادة قال: بلغنا أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه في حجة حجها، رأى من الناس دعة، فقرأ هذه الآية: كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ ثم قال: «من سرّه أن يكون من هذه الأمة، فليؤد شرط الله فيها» .
ومن لم يتصف بذلك أشبه أهل الكتاب الذين ذمهم الله بقوله تعالى: كانُوا لا يَتَناهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ [المائدة 5/ 79] .
ولهذا لما مدح الله تعالى هذه الأمة على هذه الصفات، شرع في ذم أهل الكتاب وتأنيبهم، فقال: ولو آمنوا بما أنزل على محمد، لكان خيرا لهم إذ هم يؤمنون ببعض الكتاب، ويكفرون ببعض، ويؤمنون ببعض الرسل كموسى وعيسى، ويكفرون بمحمد، مع أن كتبهم تتضمن البشارة بمحمد وصفته! إلا أن هذا الذم ليس كليا ولا جماعيا شاملا، لذا استطرد الله تعالى فذكر أن بعض أهل الكتاب، كعبد الله بن سلام وأصحابه والنجاشي ورهطه مؤمنون إيمانا حقا، لكن أكثرهم فاسقون خارجون عن حدود دينهم وكتبهم، متمردون في الكفر، فقليل منهم من يؤمن بالله وما أنزل إليكم وما أنزل إليهم، وأكثرهم على الضلالة والكفر والفسق والعصيان. ومرة يعبر تعالى بالأكثر كما هنا، وكما في قولهعن بني إسرائيل: فَلا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء 4/ 46] ، وتارة يعبر بالكثير، كما في قوله عن النصارى واليهود: مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ، وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ ساءَ ما يَعْمَلُونَ [المائدة 5/ 66] .
ويكثر الفسق عادة بعد طول الأمد على ظهور الدين، كما قال تعالى: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ، وَما نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ، وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلُ، فَطالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ، فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ، وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فاسِقُونَ [الحديد 57/ 16] .


النتيجة
أ‌-        كان خير أمة مادامت نأمر بالمعروف ننهون عن المنكر
ب‌-    فضائل الدعوة
ت‌-    ذمّ الله على من لا يأمر بالمعروف ولاينهون عن المنكر
Description: Description: C:\Users\user\Documents\dd.jpg


Itu salah satu materi ujian kami, yang sangat cetar membahana, bagi mereka yang sudah sangat paham dengan bahasa arab mungkin bukan sebuah maslah, tapi bagi kami yang punya skill bahasa arab yang sangat pas-pasan, y…jihad fi sabilillah ini namanya. Selain tafsir, munasabah dan kesimpulan kami juga harus menghafal semua ayat-ayatnya. Bentuk soal yang akan kami jumpai berbentuk benar salah dan melengkapi ayat. Terbuktulah sudah perkataan pak prof.
            “ oh yah tafsir itu lebih sulit, tapi gak apa-apa mati karena mencari ilmu mati syahid toh?” ingatku dengan ucapan beliau.



 
            Tibalah hari ujian pertama, yang menguji kami saat ini bukanlah pak prof, tapi ustadz Ainul Yaqin. Asisten pak prof yang baru beberapa bulan lalu mneyelesaikan studinya di universitas terkenal al azhar kairo mesir. Subhanallah.
            Walaupun ujian tidak dengan pak prof , tetapi tipe soal tetap sama benar atau salah. Soal pertama diawali dengan sempurnakan ayat. Ditengah-tengah soal ada soal yang menakjubkan.
            “dalam tafsir al munir ada hadits yang diriwaykan oleh bukhari mengenai ….” Saya sedikit lupa dengan soalnya.
            Sontak saya kaget, sedetail itu kah? Saya tidak memperhatikan sama sekali  sampai pada rowinya, karena bisa jadi matan hadits yang diucapkan benar namun sanadnya yang salah. Mencoba mengingat tapi tetap saja tidak terbayang karena tidak sedetail itu saya menghafal.
“rupanya seperti ini bentuk soal unversitas al azhar, memang cukup tinggi tingkat kesulitannya.” Gumamku dalam hati.
Akhirnya, sampai juga pada soal terakhir. Sama seperti biasanya langsung diperiksa saat itu juga. Semua lembar jawaban ditukar dengan teman terdekatnya. Sebenarnya dengan system seperti itu kurang efektif karena kita akan jauh lebih sibuk. Sibuk mengoreksi lembar jawaban teman sibuk juga memantau lembar jawaban sendiri yang diperiksa oleh orang lain. Seolah-olah tidak percaya dengan teman sendiri.
Yap, hasil ujian pertama tidak terlalu buruk tapi gak bagus banget juga, dengan point 83 cukup baik tetapi masih kurang buat mahasiswa pbsb (program beasiswa santri erprestasi). Tapi, ya aku sendiri juga tidak menyangka mengapa bisa dapat point setinggi itu, padahal bobot soalnya cukup sulit.
Lia lutfiana keluar sebagai nama mahasiswa dengan nilai tertinggi hari itu, 100 point, nilai yang sempurna. Bukan prof ali jika tidak memberikan apresiasi kepada mahasiswanya. Hadiahnya adalah foto bareng bersama prof Ali dan ust.Ainul. terpancar sekali rasa bahagianya dari senyumanya yang sangat tulus nan ikhlas.
Sebenarnya, sedih juga dapet nilai 83, karena setelah itu saya malah jadi merehkan ujian selanjutnya. Apalagi materi ujian selanjutnya sdari tafsir al azhar yang berbahasa Indonesia. Saya pikir yang berbahasa arab saja bisa apalagi yang berbahsa Indonesia. Mungkin ujian pekan depan nilai saya bisa mencapai 100 point. Sangat angkuhnya diri ini, astaghfirullah al aldzim.



 


Pekan kedua ujian, dengan materi tafsir al azhar. Tafsir karya prof. Dr. H. Abdul malik karim amrullah. sebuah kitab yang ditulis di dalam penjara. Bahasa melayu sebagai identitas tafsir al azhar.
“tidak ada yang bermanfaat yang Allah berikan kepada hambanya. Hamka ini menukis kitab al azhar ini di dalam penjar, mungkin saja jika ia tidak masuk penjara ia tidak dapat menulis tafsir ini karena kesibukannya yang snagat padat. Orang cerdas itu mau dimanapun pikirannya tatap tidak diam. Walaupun aktifitasnya terbatas dalam penjara tetapi otaknya tetap bisa beraktifitas. Hingga muncullah kitab yang bermanfaat untu banyak orang ini. “
Pelajaran hari ini, positif thinking.
            Sebelum mulai ujian pak prof mengoreksi tugas makalah kami terlebih dahulu. Baru kali ini saya melihat makalah dengan tebal melebihi 100 halaman. Hanya ada disini. Bukan isi yang pak prof periksa, tetapi teknik penulisannya. Bagaimana aturan titik, koma, tanda petik.
            Revisi yang diterima kelompok kami, yaitu:
1.      Penulisan modern seharusnya modern
2.      Penulisan al mardaweh seharusnya al mardawaih
3.      Tidak boleh menambah atau mengurangi terjemah hadits
Sudah banyak sekali karya-karya tulisan beliau, diantaranya; ilmu dakwah, dinamika kepemimpinan tokoh agama di Indonesia, solusi ibadah di Taiwan, mengenal tuntas Al Quran, teknik khutbah jumat komunikatif, doa-doa keluarga bahagia, dan terapi sholat bahagia.Jadi, beliau sudah sangat berpengalaman dalam hal tulis menulis temasuk dalam hal teknisi penulisan.
“menulis itu belum benar-benar sempurna jika belum kita perikasa hingga 11 kali.” Ujar beliau
Ternyata diulur nya waktu ujian kami karena ustadz Ainul salah membawa soal, file yang ia bawa adalah soal ujian minggu kemarin. Jadi, ustadz menulis soal nya mendadak. Sehingga, waktu memulai ujian agak sedikit kendor.
Tertinggalnya fail soal ujian minggu ini, mengakibatkan mayoritas soal ujian minggu ini adalah menyempurnakan ayat. Sebenarnya tidakt erlalu masalah bagiku karena sudah cukup menghafal ayat-ayat yang diujiankan hari ini. Tapi, kelihatannya teman-teman banyak yang merasa kesulitan dengan tipe soal ini yang mayoritas.
Alhasil, nilaiku memang turun menjadi 60 point. Lembar jawaban yang kuperiksa mendapatkan nilai yang cukup memprihatinkan, yaitu 30 point. Agak berat saat harus mengabarkan hasil nilai akhir kepada pemiliknya, tapi bagaimanapun juga ini harus tetap kulakukan.
“berapa punyaku?”tanya pemilik lembar jawaban yang kuperiksa
“ini punyamu, bisa dilihat.” Jawabku, karena tak sanggup aku menyebutkan berapa nilai ujiannya.
Orang itu langsung tertunduk dan menagis,
“sudah, ini hasil dari Allah, masih ada ujian besok, masih ada waktu untu memperbaiki ini semua.” Ujarku mencoba menghibur.
“iyah, tapi bagaimana aku mangabarkan hasil ujianku hari ini ke ayahku, ayah ku pasti sangat kecewa dengan hasil ujianku hari ini. Padahal aku sudah belajar.”
“ini tidak menegcewakan sama sekali, ini sudah hasil yang sangat luar biasa, insya allah ayahmu pasti sangat mengerti keadaanmu, dan akan sangat bangga kepadamu yang telah mengerjakan ujiannya degan jujur.”
Rupanya, komunikasi yang ia dengan kedua orang tua sangat baik dan intensif, hingga setiap hasil ujian selalu ia kabarkan kepada kedua orang tuanya. Hal ini yang memotivasinya untuk terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik di setiap ujian. Namun, saat hasil nya jatuh, menjadi tekanan bagi dia untuk mengabarkan hasilnya karena khwatir orang tuanya kecewa dengan hasil ujiannya.
Setelah semua selseai mengoreksi, saatnya menyebutkan nilainya.
“ siapa tertinggi hari ini ? dan siapa yang terendah?” tanya pak prof
Saat pertanyaan siapa yang mendapatkan nilai terendah hari ini, ia langsung mengankgat tangan nya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
“ pokonya aku besok gak boleh seperti ini, nilaiku esok harus bagus.” Katanya mencoba meneyemangati dirinya sendiri.
Memang selama aku mengenalnya, dia orang yang tidak pandai menyerah. Pernah kubaca di wallpaper laptopnya. Dituliskan seperti ini jika diartikan kedalam bahasa Indonesia.
“belajar yang keras jangan mengecewakan kedua orang tuamu, orang tuamu ingin melihat kamu sukses.”
Kata-kata yang benar-benar memotivasi. Ia tulis denagn bahasa daerahnya.
            Terkadang memang manusia itu harus dijatuhkan terlebih dahulu agar ia bisa bangkit lagi.
            Setelah selesai ujian dan masukkan nilai, masuk pada pembahsan materi. Awalnya aku kira akan seperti minggu lalu berkumpul dengan kelompoknya masing-masing dan menyampaikan tafsir, munasabah, kesimpulan dari setiap kelompok. Ternyata, minggu ini pembahsannya disampaikan memalui presentasi. Karena minggu depan materi ujian di ambil dari tafsir ibnu katsir, jadi kelompok kami harus mempresentasikan materi kami.
            Presentasi mendadak, tanpa persiapan, entah mau bicara apa. Mungkin penampilan kami di depan juga sedikit terlihat sibuk membaca. Apalagi kami ini berjumlah sepuluh orang, makin ricuhlah diskusi dengan presenter 10 orang.
            Yang membuatku sedikit takut, aku tudak tahu bagaimana standar penilaian ustadz ainul ini, apalagi beliau ini lulusan al azhar, ilmunya sudah sangat luas sekali. Jujur, aku ini selalu takut jika harus presentasi materi tentang keagamaan, mengapa? Karena teman-temanku itu mereka sudah sangat paham tentang agama, ilmunya sudah cukup mendalam, sedangkan aku sendiri? Wallahu a’lam
            Karena itualah, aku selalu mersa takut, bagaimana bisa penonoton jauh lebih pandai dari pada pemateri. Terkadang rasa takut ini menjatuhkan semua potensiku seluruhnya. Sebenarnya, tidak semua hal aku tidak atahu, aku juga punya modal sedikit-sedikt dari pesantren,tapi karena rasa takut itu hilanglah semua modal yang ku punya. Sudahmah sedikit, hilang pula, lengkaplah sudah.
            Materi yang harus kami presentasikan adalah materi tugasku, sudah tentu teman-teman mengandalkanku untuk menyampaikan materinya. Akhirnya, yang kupresentasikan adalah curhatahnku.
            “baik teman-teman terimakasih atas kesempatannya. Sifat negative manusia nafsu fujuraoh. Sebelumnya, saya ingin jujur, dalam proses mencari munasabah ayat ini saya memakan waktu 4 hari 4 malam, selama itu saya sulit sekali untuk mendapatkan munasabahnya. Dan inilah hasil ikhtiar saya selama 4 hari 4 malam itu.” Ujarku sambil tertunduk malu.
            “ya kita beri tepuk tangan dulu.” Pimpin ustadz ainul yang mencoba menenangkan hati, mungkin beliau melihat kalau semua pemateri saat itu gugup dan panik.
            Satu persatu dari kami bergantian membacakan munasabah, tafsir, damn kesimpulanya. Karena modul yang kita pegang hanya ada satu, jadi terlihat lempar sana lempar sini, sungguh memalukan. Hingga akhirnya waktu habis dan diskusi ditutup dan mata kuliah diakhiri.



 


Pekan ujian tiga, ujian kali ini kelompokku yang jadi tuan rumah, materi ujian minggu ini dari tafsir ibnu katsir. Karena kami ini tuan rumah, jadi mizan sebagai ketua kelompok memutuskan tidak ada diskusi kelompok minggu kemarin karena kami difokuskan untuk mempersiapkan diri. Nilai tertinggi harus salah satu dari anggota kami sendiri.
Bagi sebagian besar teman-teman menurut mereka, tafsir ibnu katsir ini yang akan menjadi penolong bagi nilai mereka. Karena tafsir ibnu katsir dinilai paling mudah diantara tafsir al munir dan al azhar. Mudah-mudahan saja benar tafsir ibnu katsir bisa menolong nilai teman-teman. Aamiin..
Ternyata terbukti ibnu katsir membawa berkah. Sebagian besar mahasiswa bisa manaikkan kembali nilainya. Termasuk nilaiku sendiri, lumayanlah dari 60 menjadi 70. Ada peningkatan sedikit. Ada kabar baik juga temanku yang mendapatkan nilai 30 itu sekarang dapat nilai 7. Hebat! 40 point dia naik melesat jauh.
Hari ini unik, pak prof mendekatkan dirinya dengan caranya. Kami ditanya dengan pertanyaan yang sangat tidak terduga-duaga.
Saat pak prof bertanya kepada jajang,
            “jang, maaf ya sebelumnya, kamu kalau setelah sholat sarungnya itu kamu lipat dulu atau langsung kamu lemparkan begitu saja?” tanya pak prof kepada jajang
Sontak semuanya tertawa mendegar pertanyaan pak prof. aneh sekali mengapa pak prof bertanya tentang sarung jajang, apa pak prof ingin meminjamnya, atau apa. Entahlah tidak ada yang tahu maksud pak prof.
Saat bertanya kepada mizan,
            “ zan bagaimana hubunganmu sekarang dengan ibumu?”
“Alhamdulillah pak baik-baik saja.” Jawab mizan dengan nada pelan.
“ saya lupa dengan siapa kamu ini agak sedikit tidak akur, ayahmu atau ibumu? Bagaiman hubungannya sekarang?”
“ayah saya pak prof, Alhamdulillah sekarang sudah membaik.”
“mengapa memang? Kamu tidak suka dengan ayahmu itu?” pak prof bertanya lagi kepada mizan.
“ ya, dulu pernah ada konflik pak, jadi agak kurang dekat denagn ayah.”
“kamu itu tidak boleh gitu toh. Tanpa sperma bapakmu itu kamu tidak akan ada di dunia ini. Seburuk-buruknya orang tua kita tetap harus kita hormati dia, seburuk apapun keadaan dia.” Jelas pak prof.
            Baru saja beberapa yang pak prof tanya, semua mahasiswa yang belum dapat giliran pertanyaan, merasa deg-degan, takut dan mencoba menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan pak prof lontarkan kepada kami.
            Saat bertanya kepada lia, sebenarnya bukan pertanyaan yang beliau lontarkan tetapi nasihat.
            “lia, lho ya dicoba untuk lebih berfikir positif sama orang lain. Karena kita gak tau niat dia melakukan itu apa.”
Lia hanya tertunduk malu
            “coba lia, jika ada temanmu yang menutup pintu dengan sangat keras, apa yang kamu pikirkan kepada temanmu itu?” tanya pak prof kepada lia
            “ mungkin dia sedang marah pak prof.” jawab lia
            “ coba berpikir positif lia, siapa tau itu anginya yang sangat kencang, atau pintu itu tidak bisa tertutup jika tidak di dobrak.” Jawab pak prof dengan santainya, sambil sedikit tertawa
Pertanyaan dan pernyataan yang prof yang lontarkan kepada lia sama seperti kepada tri. Berpikir positif.
            “tri, kamu juga cobalah bberpikir positif.”
            “iyah pak prof.” singkat tria menjawab
            “ sekarang misalnya ada orang lewat didepanmu, dan tiba-tiba meludah ke arahmu, apa yang kamu pikirkan?”
            “hmmm….” Tria mencoba berpikir  sejenak,
            “ mungkin ini pak, dia gak lihat saya disana, jadi dia meludah ke arah saya.”
Semua mahasiswa bertepuk tangan mendengr jawaban tria.
            “ jadi kamu harus sabar saja yah, ya bagus.”
            Saat bertnya ke rifqi,
            “rifqi bagaimana dengan gatal-gatalmu itu? Kapan ayahmu menelponmu dan menanyakan tentang penyakit gatalmu itu?”
            “ hehe lupa pak,sudah lama sekali itu.” Jawab rifqi dengan gaya cengengesannya
            “ gatal pada kakimu itu bisa jadi bukan karena kamu itu sakit, bisa saja itu dari psikismu. Ada orang yang ketika dia ingin tampil di depan banyak orang dia langsung mendadak gatal-gatal. Padahal dia tidak mempunyai riwayat alergi apapun. Gatal-gatalnya itu bukan karena penyakit, tapi wujud kepanikan dia saat mau tampil ke depan.”
            Saat bertanya kapada fikri,
            “kamu itu, pandai dalam bahasa inggris dan arabnya kan?”
            “Alhamdulillah pak prof.” jawab fikri
            “itu harus sangat disyukuri, karena jarang ada orang yang dia punya kemampuan dalam dua bahasa itu. Arabnya dapat ingrisnya juga dapet. Harus terus dijaga dan dikembangkan yah. Ustadz ainul saja ini kalah bahasa inggris nya dengan kamu, walaupun beliau bahasa arab nya sangat lancar sekali.” Pesan pak prof kepada fikri
            Saat bertanya kepadaku,
            “ Zahra, jadi orang tuh jangan tempramen, kasiah toh orang yang kamu tuduh itu. Sama lah coba berpikir positif.”
            “iyah baik pak prof.” jawabku singkat
            “Sebenarnya ini memang sudah jalan kalian sebagai orang-orang hebat. Kalian merasa kalau kalian itu salah jurusan, salah alamat. Kata siapa? Kalian ini sama Allah direncanakan untuk bertemu dahulu dengan saya dan ustadz Ainul baru nanti kalian menjadi penulis yang hebat, menjadi dokter yang hebat. Tidak ada yang mustahil toh?”
            Ungkapan pak prof ini membuat hati saya sedikit lega. Jujur ambisi saya menjadi seorang ahli medis sampai sekarang masih tertanam dalam, akarnya sudah menjadi akar tunggang yang tidak bisa dicabut. Saat itu saya merasa terbangkitkan lagi kalau saya ini walaupun mahasiswa konseling suatu hari tetap bisa menjadi ahli kesehatan seperti almarhum abi Adang Syihabuddin.
            Pak prof ini memang sangat special. Tidak semua dosen yang bertanya tentang penytakit mahasiswnya, apalagi sampai bertanya tentang sarung. Jangankan dosen, orangtuanya pun sendiri belun tentu manyanyakan hal itu.
            Setelah semua ditanya, pak prof mohon diri karena tidak bisa hadir pekan depan karena beliau harus ke Jakarta, ada hal yang harus beliau lakukan disana. Namun, itu semua tidak mematahkan semangat kami dalam belajar dan ujian pekan depan.
 


Sampai pada ujian tafsir yang ke-5, tidak terasa sudah 5 minggu kami berkutit dengan kata-kata benar atau salah, lanjutkan ayat, a atau b. Ujian kelima ini masih tetap dipandu oleh ustadz Ainul Yaqin. Tepat 7.30 pagi ustadz Ainul masuk ke kelas dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, dengan tas yang beliau bawa pada salah satu bahunya beliau berjalan menuju meja dosen. Satu hal yang tak pernah beliau lupa adalah menutup kembali pintu kelas,hal sederhana yang menjadi kebiasaan baik dan patut dicontoh,memang banyak hal sederhana yang biasa beliau lakukan selama perjalanan pendidikannya di mesir yang beliau tularkan kepada para mahasiswanya, walaupun ust. Ainul masih berstatus asisten dosen tapi saya rasa atmosfer kedosenannya sudah ada pada beliau. Dilihat bagaimana cara beliau memperhatikan mahasiswanya, peduli dengan masa depannya dan usaha beliau memfoto copy prof. Ali. karena usaha beliau menutup kembali pintu kelas hingga  semua mahasiswanya terhindar dari kebisingan suara dari luar.
Hal yang sebenarnya bagus tapi agak kurang sreg di hati. Kenapa ust. Ainul selalu datang 15 menit sebelum waktunya. Sebenarnya memang ini patut dicontoh dari pada dosen yang telat yang seolah-olah menganggap enteng kuliah, tapi rasanya kalo mau ujian itu pengennya ust. Ainul atau pak prof ini datang nya telat saja biar masih ada kesempatan untuk belajar lagi sedikit-sedikit untuk materi yang diujiankan, karena ujiannya itu soal-soalnya selalu terasa sesuatu sekali.
Berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya, ujian kelima ini uian tentang prinsi-prinsip dasar konseling yang diambil dari tafsir al azhar hanya ada 20 soal. Satu sisi, cukup meringankan karena itu berarti masa kita tegang untuk jeli mendengarkan soal menjadi lebih singkat karena jumlah soal yang  lebih sedikit dari biasanya. Namun, ini juga bisa jadi boomerang buat nilai kita. Jika dihitung-hitung dengan jumlah soal 20 dan nilai tertinggi 100 point  maka 100 dibagi 20 sama dengan 5, itu artinya satu soal memiliki bobot nilai 5 point. Berarti 1 soal saja salah 5 point akan berkurang, jumlah point yang berkurang jika ada kesalahan cukup besar, 50 % lebih besar dari biasanya.
Belajar dari hasil ujian kemarin hingga curhatan saya ke prof. Ali yang dikirim melalui e-mail itu membuat saya menjadi sedikit tenang dalam mengerjakan soal. Saya sudah benar-benar ridho, ikhlas, lapang dada menerima berapa pun nilai akhir ujian saya hari ini, karena saya sudah usaha sekuat mungkin semampu saya, dari mulai mencari file materi yang diujiankan, merangkum, menbaca, menghafal, hingga mencoba menjelaskannya kembanli ke teman-teman, adapun hasil sudah saya serahkan seluruhnya kepada Yang Maha Tahu Yang Maha Bijaksana bagaimanapun itu.
Ujian dimulai, tidak pernah berubah, setiapa ujian selalu diawali dengan melanjutkan ayat. Soal pertama adalah melanjutkan ayat. Soal ini sebenarnya bisa dibilang mudah , karena dalam menghafal saya tidak terlalu bermasalah, tapi yang terkadang kenapa jawaban saya salah, karena salah alif saja itu sudah salah, kurang satu huruf pun salah. Awlamya saya pikir memang sepele masa salah sedikit saja disalahkan, padahal kan itu sangat sepele. Namun bukan itu yang diinginkan pak prof, yang beliau inginkan adalah semua mahasiswanya menjadi orang yang benar-benar teliti, sehingga alif pun itu harus benar-benar kita perhatikan. “ kalo kalian jadi pemimpin perusahaan salah titik atau koma aja bisa masuk penjara kalian. Kalau dalam laporan keuangan yang seharusnya titik malah koma itu fatal, bisa-bisa disangaka menggelapkan uang yang berujung ke pengadilan dan masuk penjara.”
Dalam pikir saya “ iyah juga yah, orang-orang sukses itu mereka benar-benar memang harus teliti sedikit saja salah menurunlah kesuksesannya itu.
            Pada dasarnya yang diinginkan pak prof itu tetap hanya satu, mahasiswanya itu menjadi orang-orang yang sukses, orang yang dihitung dimasyarakat. Beginilah cara beliau membiasakan kami untuk sedikit-sedikit melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang sukses.
            Masuk pada soal ujian nomer dua, kembali lagi dengan gaya soal ujiannya pak prof yaitu benar atau salah. Bedanya soal ujian antara yang dibuat pak prof dan ust. Ainul adalah kalau soal buatan pak prof itu tidak semua dari buku, tapi dari apa yang pernah beliau ucapkan juga walaupun misalanya ucapan itu tidak tertulis dalam buku. Berbeda dengan soal yang dibuat ust. Ainul, soal yang dibuat beliau benar-benar sama persis dari apa yang ditulis dalam buku, jadi sedikit menuntut kami untuk mengetahui kata-kata yang persis ada di buku dan lagi-lagi ketelitian kami sangat diuji disini.
            Tak lama kami menjalankan ujian pak prof datang, masuk ke dalam kelas seraya mengucapkan salam.
            “Assalamu’alaikum, sudah selesai ujiannya? Tanya pak prof kepada ust. Ainul
            “belum ustadz, baru saja dimulai.” Jawab ust. Ainul, dan pak prof mempersilahkan kami untuk melanjutkan ujian kami.
            Sampailah pada soal terakhir. Tiba waktunya untuk memeriksa hasil ujian, ya..tetap sedikit gugup dan khawatir dengan hasil ujian kali ini. Namun, karena diawal saya sudah menanamkan rasa ridho, ikhlas, lapang menerima berapapun nilai ujian minggu ini.
            “saya minta untuk sekarang coba untuk mengoreksi milik masing-masing.” Pinta pak prof kepada seluruh mahasiswa.
            Sebenarnya antara enak dan gak enak kalau koreksi milik sendiri. Enaknya ya kita gak perlu sibuk tanya ke orang lain tentang perkembangan nilai kita, jadi suasana kelas bisa lebih tenang. Tidak enaknya disini diuji kejujuran, dan terkadang saya sendiri orang lain merasa tidak percaya dengan perhitungan saya sendiri seolah-olah ada rasa tidak percaya.
            Penghitungan selesai, alhamdulillahi rabb al-alamin. Hasilnya cukup memuaskan, point yang saya dapat pada ujian minggu ini 90 point. Ya walaupun belum mencapai angka 100, tapi ini merupakan perbaikan yang cukup baik dibandingkan ujian minggu kemarin. Ada kenaikan 30 point dari hasil ujian kemarin, dari 60 point menjadi 90 point.
            “baik, ahmad jadul haq berapa nilainya?” ust. Ainul yaqin mulai memasukkan nilai kami ke buku daftar nilai. Sampai pada absensi terakhir.
            “ Zahra nisaul azizah, berapa?” Tanya ustadz ainul kepadaku
            “90 ustadz.” Jawabku dengan singkat sambil tertunduk malu kepada pak prof, karena saat itu aku duduk di bangku paling depan pojok sebelah kanan.
            “ subhanallah, naik yah? Berapa kemarin?” Tanya pak prof kepada ku
            “ Alhamdulillah pak prof, kemarin dapat 60.” Seketika itu juga semua teman-temanku memberiku apresiasi dengan tepuk tangan yang sangat meriah, benar- benar membuatku terharu.
            “ ya tugas kalian itu cuman belajar dan berdoa saja, setelah usaha mau hasilnya bagaimanapun juga, ya ikhlaskan, ridho.” Ujar pak prof mengingatkan kami semua.
            Saya terinagat dengan surat al baqarah ayat 216, yang artinya:
“ Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu , tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu , padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah [2]: 216)

Hidup ini memang benar- benar misteri dan rahasia, penuh denagn rahasia Allah. Allah Maha Mengetahui, tak ada satupun yang mengetahui apa yang akan terjadi satu detik kedepan, tidak ada yang mampu mengetahui kenapa Allah berikan sesuatu satu detik yang lalu, ada yang tahu?. Tugas kita hanya berserah kepada-Nya, beribadah kepadanya, dan tawakal setelah kita berikhtiar.


 


            Hari ini, materi yang kita dapatkan dari pak prof adalah menulis. Setiap pertemuan pak prof memnag selau bertanya sudah sampai tulisannnya dan apa Kendala-kendala kita selama menulis, dan hari ini mata kuliah kami bukan tafsir ayat konseling tetapi menulis.
            Dalam menulis itu, untuk mempermudah fokuskan saja kepada 5w+1H, karena biasanya kendala kami dalam menulis itu bingung apa yang ingin kami tulis. Penagalaman pribadi, biasanya sebelum nulis segudang ide bermunculan tiba-tiba, saat sudah dihadapkan dengan laptop, hilanglah sudah semua ide, inspirasi-inspirasi.

  1. What, apa.
Apa yang terjadi, dijelaskan kejadian yang terjadi pada saat itu. Biasanya kejadian ini yang menjadi judul cerita.
  1. Who, siapa
Siapa yang ada dalam cerita, subjek dan objeknya. Bagaimana karakter orangnya, ciri-ciri fisiknya, biografinya. Pemaparan biografi atau ciri-ciri pemeran  dalam cerita alangkah lebih baik jika dejelaskan sedikit demi sedikit, tidak langsung secaara gampalang. Contohnya:
Ani yang memiliki rambut panjang, berkulit hitam, berhidung macung, anak ketiga dari lima bersaudara, memiliki prestasi yang baik disekolahnya, dan pernah menjadi juara I tahfidzul Quran tingkat nasional.
Penjabaran ciri-ciri pelaku dengan dijelaskan secara beruntun terkesan sedikit monoton, dan tidak hidup. Berbeda jika dijabarkan sedikit demi sedikit, berikut contoh :
            Gadis berhidung mancung ini pernah menjuarai lomba tahfidzul quran tingkat nasional. Anak dari dua kakak berketurunan arab dengan hidung mancungnya setiap hari harus membantu ibunya mengurus kedua adiknya, namun kesibukannya  tak menghalangi prestasi Ani disekolah.
Penjabaran ciri-ciri pelaku seperti diatas sedikit lebih nyaman dibaca dibandingkan dengan yang pertama.
            Pelaku disisni tidak hanya orang-orang yang menjadi peran utama dalam cerita, tetapi semua pihak yang ada saat terjadinya kejadian tersebut. Baik itu orang lewat, pengemis, anak-anak yang sedang bermain, dan lain-lain. Bila perlu pihak-pihak tersebut juga dijelaskan bagaimana ciri-cirinya., seperti;
Saat kami sedang asyik menyaksikan atraksi para pesulap itu, datang seorang perempuan tua dengan pakaiannya yang sangat kucal meminta sedikit uang kepada kami denagn
  1. Where, dimana
Where menjelaskan tempat terjadinya cerita. Pada umumnya tempat ini hanya disebutkan nama daerahnya saja. Tidak ada slah nya jika disajikan dengan hal yang berbeda. Seperti penjabaran tokoh, tempat juga bisa dijelaskan dengan serinci-rincinya. Nama provinsi, kota atau kabupaten, kecamatan, kelurahan, nama jalan. Tidak kalah penting juga jarak temapt dengan daerah yang sudah terkenal sampai mancanegara. Mengapa harus begitu, karena tulisan kita ini akan sampai pada negeri arab,inggris, Thailand, dan mereka yang diluar Indonesia tidak yahu UIN sunan AMpel itu ada dimana, jadi kita jelaskan UIN SUnan ampel itu berada 4 km dari tugu pahlawan misalnya. Karena tugu pahlawan adalah ikon surabay yang sudah dikenal oleh mancanegara, dengan begitu para pembaca lebih bisa mengimajinasikan letak UIN Sunan Ampel saat membaca cerita kita.
            Contoh:
Tabrak lari antara pejalan kaki denagn penggina motor sepeda itu terjadi saat hujan deras sekitar pukul 16.30 WIB. Kejadian tanpa pertanggung jawaban itu terjadi tepat di jalan kartini, 1km dari pusat pemerintahan kota Bogor. Selain pada jam pulang kerja, keramaian para peadagang pasar malam yang sedang mempersiapkan dagangnanya  juga memicu terjadinya tabrak lari tersebut.
Contoh diatas menjelaskan tempat kejadiannya di jalan kartini. Terletak 1 km dari pusat pemerintahan kota Bogor dan dekat dengan pasar malam.
  1. When, kapan
When, menjelaskan kapan terjadinya kejadian tersebut. Tepat pukul berapa, bagaimana kondisi cuaca saat itu.
  1. How, mengapa
Untuk menjawab how, diperlukan jawaban yang sangat mendalam, karen apada bagian ini dijelaskan mengapa kejadian itu bia terjadi. Kejadian secara rinci dijelaskan pada bagian ini. Sebab-sebab terjadinya kejadian, akibat-akibat dari kejadian, proses kejadian.
Kalau mahasiswi sesusai dengan apa yang saya rasakan biasanya yang ditulis itu lebih condong ke curhat atau cerita pengalaman sehari-hari, tentang perasaannya atau hal-hal yang menakjukan, menyebalkan, dan tak bisa dilupakan sampai kapanpun. Karena perempuan lebih suka bermain dengan perasaannya daripada logikanya.
Materi menulis pagi itu tidak hanya sekedaer materi. Pak prof memita tulisan dari para mahasiswanya sebagai syarat ujian tafsir ayat konseling yang terakhir pekan depan. Tidak ada lagi alasan tidak minat, tidak bakat, karena ini hukumnya wajib! Sebenarnya ini cukup membebaniku, karena jujur saja menulis itu hal yang cukup selit buat saya.
Cerita singkat dari pak prof pengalamannya ketika di Hongkong. Pak prof berkunjung ke salah satu sekolah dasar yang ada di Hongkong. Pesan beliau kepada guru di sekolah tersebut agar tidak mengomentari sedikitpun tulisan yang telah ditulis oleh anak didiknya sejelek apapun tulisan tersebut. Biarkan anak-anak mengembangkan tulisnnya sendiri, mengalir begitu sja.
Tak lama, pada beranda akun facebooknya, pak prof melihat ada seorang ibu yang memasukkan tulisann ankanya di akun facebook. Ternyata perempuan itu adalah ibu dari salah satu murid disekolah yang pernah pak prof kunjungi di Honkong. Begitu ccepat sang guru menagkap pesan pak prof, hingga salah satu orang tua dari muridnya bangga dengan apa yanganaknya tulis, siswa sekolah dasar.
Melihat dari kisah tersebut, mudah saja. Mengapa anak sd mampu menghasilkan tulisan yang aik?. Karena mereka menulis dengan enaknya, tanpa beban. Tidak memikirkan bagaiman atitik, koma, kutip dan sebagainnya. Mereka menikmati alur tulisan mereka. Jadi, jika kita ingin berusaha menghasilkan tulisan yang cukuo membanggakan, menulislah dengan tanpa beban. Enjoy, relax, santai, tapi tetp dikerjakan.
Tak bisa dibayangkan betapa bangganya orang tua dari anaka itu, hingga dia mau mempublish hasil karya anaknya. Disan assay aberpikir,. Mengapa anak sekolah dsar bisa sam[pai seperti itu. Sedngakan sya seorang mahsiswi, yang tidak asing lagi dengan tulisan, seperti makalah rasaya mendapatkan tugas menulis bebas saja meras tertekan?/ amak itulah yang mnjadi jawabannya. Menulislah tanpa beban!.


 



Setelah panjang lebar p[ak prof menjeaskan dan bercerita, masuklah pada sesei pertanyaan.
“siapa yang masih ada kendala atau pertanyaan? Silahkan.” Pek prof mempersilahka kepada para mahasiswanya.
 Pada awlnya tidak ada yang mengankat tangan, setelah pak prof memepersilahkan kembali barulah ada yang mengakat tanganya. Saat itu nadia yang pertama angkat tangan, dan dia yang dipersilahkan untk mengajukan pertanyaannya terlebih dahulu.
“sebenarnya saya bukan mau Tanya pak, tapi mau sedikit cerita.” Ucap nadia kepada pak prof.
“ya, silahkan saja.” Jawab pak prof dengan lambutnya sambil sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan teliganya kea rah nadia.
“ saya ini sebenernya pernah ikut beberapa kali latihan kepenulisan, saya juga punya beberapa buku tentang teknik-teknik menulis. Tapi kenapa saya masih merasa kesulitan dalam menulis. Saya selalu berdoa meminta bantuan kepada Allah.”
“coba, bagaimanan doa mu itu?” tanya pak prof memotong cerita nadia.
“ saya meminta begini. Ya allah saya ingin menjadi penulis hebat, maka berilah aku kekuatan.”
“ jadi begini yah, kalau berdoa itu alangkah lebih baik jika menggunkan kalimat-kalimat afirmasi.” Saran pak prof.
Doa-doa afirmasi? Tanyaku dalam benak. Afirmasi itu bukannya seperti pemberian sugesti pada diri sendiri sehingga tertanam dalam diri dengan cara adanya kontak dengan alam bawah sadar. Lalu bagaimana dengan doa-doa yang bersifat afirmasi?
            “ berdoa itu jangan ya allah berilah kami kekuatan ketabahan, coba kaalau kita berdoa seperti ini, ya allah dengan kekuatanmu aku yyakin aku pasti bisa.”
Sontak saya teringat dengan buku tenatang risalah doa, salah satu karya prof ali. Sedikit akan saya tularkan apa yang saya dapatkan dari buku tersebut.
            Buku ini berjudul doa-doa keluarga bahagia, sengaja pak prof desain denagn sangat sederhana, kira-kira 20cmx10cm hingga mudah dibawa kemana-mana.
                        Yang pertama, pengertian dan fungsi doa.
           Secara bahasa, doa artinya memanggil. Memohon atau mencari. Secara istilah, doa adalah permohonan sesuatu kepaada Allah SWT. Kita berdoa sebab Allah SWT memerintahkannya, bahkan murka kepada orang yang tidak berdoa. “ dan Tuhanmu berfirman,’berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu. Sungguh, orang-orang yang menyombongkn diri dari menyembah-Ku (memohon kepada –Ku) akan masuk neraka jahannam Dallam keadaan hina dina.” (QS Al Mukmin [40]:60)
           Doa tidak hanya berfungsi pengajuan permohonan sesuatu kepada Allah. Tapi juga sebagai wujud penghambaan (ubudiyyah) kepada-Nya. Semakon sering berdoa, berarti seseorang mengakui kebesaran Allah SWT dan semakin mengakui kelemahan dirinya dihadapan-Nya. Allah SWT murka kepada orang yang tidak berdoa, karen aberarti ia menunjukkan kesombongan: merasa bisa mencapai segalanya tanpa antuan Allah SWT; menganggap segala yang diperoleh berkat keringatnya sendiri, tanpa campur tangan Allah SWT. Dala hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “ man laa yad’iinii aghdlabu ‘alaihi / Barangsiapa tidak berdoa, Aku marah kepadnaya.” (HQR> ‘Askary dari Abi Hurairah r.a)
           Doa juga berfungsi untuk mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Semakin banyak diminta, Allah SWT semakin senag. Nabi SAW bersabda, “ mintalah Allah dari karunia-Nya, sebab Dia senagn untuk dimita.” (HR AT Turmudzi dari ibnu mas’ud r.a). berbeda dengan manusia yang bosan dan jengkel kepada seseorang yang terlalu sering memintanya, sekalipun yang diminta itu barnag yang tidak berharga.
           Sekalipun anda pandai berdoa, anda masih perly bantuan doa orang lain. Umar bin khattab selalu meminta doa dari anak-anak kecil yang ia jumpai, jangan sekali-kali meremehkan doa seseorang hanya karena secara fisik atau lahiriyah tidak meyakinkan. Bisa jadi, oranh yang anda remehkan itu lebih mulia dan lebih cepat dikabulkan doannya daripada anda sediri. Nabi SAW bersabda, “ perbanyaklah meminta doa kebaikan dari orang lain, sebab manusia (hamba Allah) tidak tahu melalui mulut siapa sebuah doa dikabulkan dan dihormati.” ( HR Khatiib dari Abu Hurairah r.a.)
           Ada orang yang berkata, “ Saya tidak pernah berdoa, sebab saya malu kepada Allah. Sudah terlalu banyak nikmat-Nya, tapi masih terus meminta.” Pernyataan ini pasti diucapkan oleh orang yang lupa, bahwa meminta kepada Allah tidak harus berupa rizki, tapi juga bimbingan, rahmat, pengampunan, dan keridloan Allah. Apakah ia tidak membutuhkan semua itu? Nabi selalu memohon semua itu kepada Allah SWT. Ketika duduk diantara dua sujud dalam setiap sholat. Anda tetap dianjurkan memohon kesehatan dan rizki, sekalipun Anda sehat dan kaya raya.
           Seorang lagi berkata, “Allah SWT sudah mengetahui isi hatu sya dan mengerti apa yang saya butuhkan. Untuk apa berdoa?” orang ini juga lupa bahea para nabi lebih tahu daripada dirinya, bahwa Allah Maha Mengeathui isi hati manusia. Tapi, para nabi tetap mengucapkan doa secara lisan. Banyak sekali firman allah SWT dal Al Quran, antara lain dalam surat AL Anbiya yang berisi doa para nabi.
           Ada juga yang berkata, “saya malu berdoa. Saya harus menjalankan kewajiban terlebih dahulu sebelum megajukann permintaan. Saya belum mengajukan permintaan. Saya belum melakukan kewajiban sepenuhnya, maka sya belum berhak berdoa.” Orang ini tidaksadar bahwa ia sendiri telah berdoa dalam setiap sholatnya. Menyempurnakan kewajiban seelum menuntut hak merupakan akhlak yang ideal. Tapi, apakah manuisia buisa menjalankan kewajiban tanpa pertolongan Allah? Apakah ia bisa menaglahkan setan tanpa antuan Allah? Tentu tidak mungkin. Oleh seba itu, mintalah pertolongan Allah untuk menjalankan kewajiban dan manjauhi larangan-Nya. Di samping itu, adakah manusia yang sudah berhasil menjalankan oerintah agama sepenuhnya? Jika menunggu sempurna, dan itu tidak mungkin, maka berarti sepanjang hidupnya ia tidak berdoa apapun.
           Yang kedua, cara berdoa.
           Dari segi redaksi, ada dua macam cara berdoa. Anda boleh memilih salah satu atau keduannya. Pilihlah yang paling mengesanlan dan mendatangkan peghayatan mendalam bagi anda. Pertama, do yang hanya tersirat dalam pernyataan, tanpa diungkapkan secara langsung. Inilah doa Nabi Ayuvm a.s.” dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘wahai Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau tuhan yang maha Pengasih di antara semua pengasih.’ (QS Al Anbiya [21]: 83). Atau doa nabi Yunus a.s, “Dan (ingatlah kisah) dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). Maka ia berdoa dalam keadaan yang sngat gelap, “ Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang dzolim.” (QS Al Anbiya [21]: 87.Atau doa nabi Adam a.s dam istrinya hawa. “ keduanya berdoa, ‘wahai Tuhan kami, kami telah berlaku dhalom pada diri sendiri. Jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” ( QS Al A’raf[7]: 23)
           Kedua, doa degan permintaan secara langsung. Inilah doa Nabi Zakariya a.s, “ Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia erdoa kepada Tuhannya, ‘wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri,dan Engkaulah pewaris yang ter baik.” (QS Al Anbiya [21]: 89. Atau doa Nabi Ibrahim a.s, “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menempati surga yang penuh kenikmatan. “ ( QS Asy Syua’ara[26]: 83-85).
           Yang ketiga adalah etikak berdoa.
           Sebaiknya anda memperhatikan etika berikut ini ketika berdoa. Pertama, bukalah doa dan tutuplah dengan shalawat dan hamdalah. Kedua, jika memungkinkan, hadapkan wajah anda kea rah kiblat dan angkatlah kedua tangan anda. Nabi SAW bersabda, “ Sungguh, Allah Maha Hidup dan Maha Pemurah. Ia “malu” jika hamba-Nya berdoa dengan mengangkat kedua tanganya lalu tidak dikabulkannya.” ( HR Arba’ah kecuali An Nasa’i). ketiga, usapkan kedua tanngan di wajah setelah berdoa. “ Rasulullah SAW selalu mengangkat kedua tangan ketika berdoa dan tidak melepaskannya sebelum mengusapkannya pada wajahnya.” (HR. At Turmudzi dari Umar r.a ).
           Keempat, berdoalah dengan tadlarru’(renndah hati) dan khufyah (suara lembut). “ Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (tadlarrru’ dan suara yang lembut (khufyah). Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al A’raf [7]: 55)., yaitu melampaui batas dalam hal suara, cara meminta dan jeis yang siminta. Kelima, berdoalah dengankeyakinan akan terkabulnya doa atas kemurahan Allah SWT. “Berdoalah kepad-Nya dengan rasa takutdan penuh harap( terkabulnya doa).” (QS Al A’raf[7]7: 56). Pada saat yang sama, anda harus menunjukkan keikhlasan dan keridhloan pap pun pemberian Allah sesuai yang diharapkan ataupun tidak.
           Keenam, anda bisa mengulang doa-doa tertentu sampai tiga kali. Ketujuh, susunlah kalimat doa yang terbaik. Diutamakan yang bersumber dari Al Quran, hadits, dan para sahabat. Kedelapan, upayakan berdoa dengan jiwa yang bersih, yaitu suci dari hadats kecil dan hadats besra, ersih dari pakaian dan makananyang haram, dan doa yang buakan untuk dosa atau menyusahkan orang lain. “ Sa’ad bin Abi Waqash r.a erkata kepada Nabi SAW, ‘Wahai Nabi, aku telah berdoa kepada Allah, tapi Allah belum mengabulkan permohonanku. Nabi SAW bersabda, “Wahai Sa’ad, jauhilah yang haram. Sungguh, setiap perut yang masuk ke dalamnya sesuap yang haram, maka doannya tidak diterima selama 40 hari.”
           Yang keempat adalah tempat dan waktu berdoa.
           Pada dasarnya, doa bisa dibaca oleh siapa saja. Dimana saja dankapansaja. Akan tetapi, ada eberapa tempat dan waktu yang memiliki keistimewaan disbanding tempat dan waktu yang lain.
           Berdasarkan tempat berdoa, hanya ad dua tempat yang memiliki keistimewaan, yaitu mekkah, khususnya sekitar ka’bah yang meliputi maqam Ibrahim, Multazam dan sebagainya. Kedua, madinah, khususnya di Raudlah yaitu beberapa meter antara maqam nabi SAW dan mimbar tempat khutbah nabi SAW semasa hidupnya.
           Adapun waktu-waktu yang istimewa untuk berdoa adalah hari jum’at, hari arofajh, ketika wuquf, antara adzan daniqomat, dan sepertiga malam terakhir. Nabi SAW bersabda, “ Tuhan kami turun setiap malam e langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapapun yang berdoa akan Aku penuhi, siapapun yang eminta akan Aku beri dan siapapun yang memohon ampunan, Aku ampuni.”(HQR. Malik, Buhkhari dari Abi hurairah r.a)
           Doa akan lebih mudah dikabulkan Allah jika pembaca doa itu adalah orang tua untuk anaknya, anak sholeh untuk orang tuanya, orang yang sedang bersujud, orang yang berdoa untuk seseorang tanpa sepengetahuan yang didoakan, musafir, orang sakit, kepala Negara yang adil, orang yang erpuasa (terutama ketika buka dan sahur), dan orang-orang yang didholimi. Abu Hurairah r.a menceritakan, Nabi SAW ersabda, “Tiga doa yang pasti ( ia syakka fih) dikabulkan allah: doa orang tua untuk ankanya, doa musafir dan doa orang yang terdholimi.”
           Yang kelima adalah penerimaan doa.
           Imam Sufyan bin ‘Unayah berkata, “Optimislah dalam berdoa.  Doa iblis saja dikabulkan Allah.” Abu hurairah r.anmengatakan, Nabi SAW bersabda, “ Setiap doa muslimpasti dikaulkan Allah. Adakalnya dipercepat terkabulnya di dunia, atau ditund kelak di akhirat, atau diampuni dosa-dosanya, asalkan doa itu bukan untuk dosa atau memutus silaturrahmi.”
           Dalam kitab tanbighul ghafilin (As Samarqandi : 144), disebutkan Abu Hurairah r.a berkata, “ Lakukanlah limam tindakan untuk memperoleh lima jaminan. Perttama, terimakah dengan senang hati (syukur) apapun pemberian Allah. Dijamin,engkau mendapat tambahan rizqi dan kebahagiaan. Allah SWT berfirman, “ Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mangingkari (nikamt-Ku), maka sungguh, siksa-Ku sangat pedihg.” (QS Ibrahim[14]:7).
           Kedua, bersaarlah untuk melakukan perintah Allah dan menghadapi cobaan. Dijamin, engkau mendapat pahala tiada batas dari Allah. “ Sungguh, hanya orang-orag yang bersabatlah yan dipenuhi pahala mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar[39]: 10).
           Ketiga, bertobatlah dari dosa. Dijamin. Tobatmu diterima Allah. “ Allah menerima taubat dari hamba-hamban-Nya dan menerima zakatnya. Dan Allah maha Penerima taubat lagi maha Penyanyang. “ (QS At Taubah[9]: 104.
           Keempat, mohonlah ampunan kepada Allah. Dijamin, dosamu diampuni Allah. Allah berfirman, “ mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun.” (QS Nuh [71]: 10).
           Kelima, berdoalah untuk apa saja. Dijamin, doamu dikabulkan Allah. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan doamu.” (QS Al Mukmin[40]: 60)
           Yang keenam adalah penolakan doa.
           Orang bijak (Ahlul Hikamah) mengatakan, “Ada tujuh kebohongan yang menyebabkan doamu tertolak dari langit. Pertama, engkau menegtahui Tuhanmu marah karena dosa-dosamu, tapi engkau tidak berusaha mencari ridlonya. Kedua, engkau menyebut dirimu sebagai hamba Allah, tapi perbuatankmu tidak mencerminkan sebagai hamba. Jika anda seagai udak, ertsikaplah sebagaimanaseharusnya seorang budak. Jangan ertindfak seperti tuan. Ketiga, mulutmu berbusa-busa dengan Al-quran tapi pikiranmu tidak bekerja, hatimu tidak bergetar, dan perbuatanmu tidak sesuai dengan ayat-ayat yang engkau baca.
           Keempat, engkau mengaku sebagai pengikut Nabi SAW, tapi akhlakmu tidak sesuai dengannya, terutama kesungguhan menghindari makanan yang haram dan syubhat ( tidak jelas halal-haramnya). Kelima, engkau berkata, dunia hanya senilai sayap nyamuk disbanding nilai akhirat, tapi kelihatannya engkau sufah puas dengan kenikmatan dunia. Keenam, engkau mengatakan dunia ini pasti berakhir, tapi Nampak jelas daricara hidupmu, engkau yakin akan hidup selamanya.
           Ketujuh, engkau mengatakan dunia ini pasti berakhir lebih penting dari dunia,tapi tidak tampak pada dirimu kesungguhan mempersiapkannya. Bahkan, kepentingan akhirat selalu engkau kalahkan dengan kepentingan dumia. (As Samarqandi:144)
           Yang ketujuh adalah doa untuk orang lain.
           Nabi SAW bersabda, “Doa orang muslim untuk saudaranay tanpa sepengetahuan yang didoakan akan dikabulkan Allah, di sebelah kepalanya ada satu malaikat yang diutus Allah. Setiap muslim itu mendoakan saudaranya untuk hal-hal yang baik, malaikat itu berkata, “Amin, walaka mitslu dzalik/semoga dikabulkan Allah , dan semoga Allah juga memberimu hal yang sama.” (HR Ahmad dari Abu Darda’ r.a)
           Berdasarkan haduts diatas, maka peranayklah berdoa untuk orang lain, agar anda diaoakan banyak malaikat. Jiak anada ingin sukses dan bahagia, perbanyaklalah doa kesuksean dan kebahagiaan untuk orang lain, termasuk orang yang paling membenci anda. Orang bijak (ahlu hikmah) mengatakan, “Empat tipe manusia yang tidak akan hidup bahagia selamanya. Pertama, orang yang kikir ersholawat kepada Nabi. Kefua, orang yang tidak menjawab panggilan adzan. Ketiga, orang yang enggan memberi pertolongan dalam kebaikan kepada orang yang membutuhkannya. Keempat, orang yang jarang erdoa untuk dirinya sendiru dan untuk orang lain setiap selesai sholat. (As Samarqandi:144)

            Setelah terjawab pertanyaan dari nadia, pak prof mempersilahkan kepada yang lain untuk bertanya. Saat ini iva yang mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
            “pak prof, bagaimana jika kita tuh udah niat untu nulis, misalkan saya mau nulis dari jam 1 sampe jam 4 nanti. Lah, pas jam tiga tuh kan udah masuk waktu ashar, trus ada teman yang ngajak sholat ashar. Lah, kita kan udah niat mau nulis sampe jam 4 jadi kita bilang’ iyah sebentar sholat duluan aja masih mau nulis’, lah kalau gitu giman pak prof?” tanya iva dengan penuh antusias.
            “loh ya gak boleh to mba, kita itu menulis karena antuan Allah. Jangan sampai karena menulis kita melalaikan sholat. Hadirkan Allah dalam setiap aktivitasmu.” Jawab pak prof dengan nada yang cukup tinggi.
            “’oh jadi kalau begitu, kita lebih baik berhenti saja menulisnya?” tanggap iva mencoba menyimpulkan.
            Terkadang memang, ketika kita sudah mulai mencoba mendiplinkan diri selalu saja banyak godaannya. Sekalipun kita sudah istiqomah dengan kedisiplinan kita, justru kita lupa dengan yang memberikan kita kekuatan untuk isa disiplin, Allah SWT. Ituah manusia, labil keimanan.
            Labil keimanan merupakan salah satu sikap negative manusia. Seperti dalam surah Al Fajr[89]: 15-16 dan Fushilat[41]: 51. Dijelaskan dalam tafsir ibnu katsir;
“Maka adapun manusia jika diuji oleh Tuhannya dengan kemuliaan dan serba nikmat kesenangan, kemewahan, maka ia berkata: Tuhanku telah memuliakan aku, menyayangiku. (15). Maka jika ia diuji dengan rezeki yang terbatas tidak ada kelebihan dan serba kekurangan, maka ia berkata: Tuhan telah menghina aku.” (QS. Al Fajr [89]:15-16)
Beberapa ayat sebelumnya yaitu ayat 6-12 diterangkan tentang kaum-kaum terdahulu yang menyimpang dari agama Allah dan di siksa, lalu ayat 15 dan 16 menerangkan sifat-sifat umum manusia yang mempunyai tingkat keimanan yang rendah, mereka berpendapat bahwa rahmat dan siksaan Allah diukur dengan harta benda atau materi. Ayat-ayat ini sama-sama menerangkan kaum-kaum yang lalai dari agama Allah.

خَيْرُ بَيْتٍ فِيْ الْمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ وَشَرُّ بَيْتٍ فِيْ الْمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ
Sebaik-baik rumah di antara kaum muslimn ialah rumah di mana ada anak yatim yang disayang dan dimuliakan. Dan sejahat-jahat rumah di tengah-tengah kaum muslimin ialah rumah di mana ada anak yatim yang dianiaya dan dihina.” (HR. Abdullah bi Al Mubarak dari Abu Hurairah r.a.)
Sahal r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ
Aku dengan orang yang memelihara anak yatim dengan baik, bagaikan dua jari ini di surga (yaitu jari telunjuk dan ibu jari).”.” (HR. Abu Dawud)
Allah mengingatkan manusia agar jangan sampai mengira bahwa kemuliaan di sisi Allah itu hanya ditentukan oleh kaya atau miskin dalam harta benda atau banyak dan sedikit makanannya, gendut atau kurusnya perut, bukan itu sekali-kali bukan itu, tetapi semata-mata karena kerakusanmu terhadap harta kekayaan yang berlebihan sehingga kalian tidak ada rasa kasih sayang kepada anak yatim, dan tidak suka membantu fakir miskin.
Iman itu sama dengan cinta, yaitu sama-sama naik turun, kadang iman seseorang itu tinggi, kadang juga rendah. Ketika Iman manusia rendah, manusia tidak dapat berpikir jernih sehingga melakukan dosa-dosa dan kesalahan dihadapan Tuhan. Potensi negatif manusia yang paling sering berpengaruh terhadap  mausia adalah labilnya iman.
Sedangkan menurut prof. Dr. H. Abdul malik karim amrullah dalam tafsirnya Al Azhar;
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku" . Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".” (QS. Al Fajr [89]: 15-16).
Pada ayat sebelumnya, yaitu ayat 14 dijelaskan bahwa sampai seterusnya selama manusia masih hidup dan bergiat di dunia ini sifat-sifat buruknya akan tetap dalam pengawasan Allah SWT. Kemudian pada ayat 15 sampai 16 digambarkan sifat buruk manusia yaitu jika iman sudah tidak ada.
Pada kedua ayat ini digambarkan jiwa manusia bila iman tidak ada; “Maka adapun manusia itu, apabila diberi percobaan akan dia oleh Tuhannya, yaitu diberi-Nya dia kemuliaan dan diberi-Nya dia nikmat.” (pangkal ayat 15). Diberi dia kekayaan atau pangkat tinggi, disegani orang dan mendapat kedudukan yang tertonjol dalam masyarakat; yang di dalam ayat itu disebutkan bahwa semuanya itu adalah cobaan; “Maka berkatalah dia: “Tuhanku telah memuliakan daku.” (ujung ayat 15). Mulailah dia mendabik dada, membanggakan diri, bahwa Allah SWT telah memuliakan dia. Dia masih menyebut nama Allah SWT, tetapi bukan dari rasa iman. Sehingga kalau kiranya datang orang minta tolong kepadanya, orang itu akan diusirnya, karena merasa bahwa dirinya telah diistimewakan Allah SWT.
“Dan adapun apabila Tuhannya memberikan percobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya rezekinya.” (pangkal ayat 16). Dijangkakan, atau diagakkan, atau dibatasi; dapat hanya sekedar penahan jangan mati saja. Kehidupan miskin, dapat sekedar akan dimakan, dan itupun payah; “Maka dia berkata: “Tuhanku telah menghinakan daku.” (ujung ayat 16)
Di dalam ayat ini bertemu sekali lagi bahwa kemiskinan itu pun cobaan Allah SWT juga. Kaya percobaan, miskin pun percobaan.
Dalam Surat 21, Al-Anbiya’ ayat 35 :
 “Tiap-tiap diri akan merasakan mati, dan Kami timpakan kepada kamu kejahatan dan kebaikan sebagai ujian; dan kepada Kamilah kamu semua akan kembali.” (Q.S. Al-Anbiya’: 35)
Buruk dan baik semuanya adalah ujian. Kaya atau miskin pun ujian. Kalau Allah SWT memberikan anugerah kekayaan berlimpah-ruah, tetapi alat penyambut kekayaan itu tidak ada, yaitu Iman ; maka kekayaan yang melimpah-ruah itu akan membawa diri si kaya ke dalam kesengsaraan rohani. Harta yang banyak itu akan jadi alat baginya menimbun-nimbun dosa.
Sebaliknya orang miskin, hidup hanya sekedar akan dimakan. Kalau alat penyambut kemiskinan itu tidak ada, yaitu Iman; maka kemiskinan itu pun akan membawanya menjadi kafir! Asal perutnya berisi, tidak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Oleh sebab itu dapatlah kita lihat di kota-kota besar sebagai Jakarta dan kota-kota lain; ada orang yang mengendarai mobilnya dengan sombong, dengan kaki tidak berjejak di tanah, tidak tahu dia ke mana rezeki yang banyak itu hendak dibelanjakannya. Lalu dia pun lewat di atas jembatan. Di bawah jembatan tadi kelihatan orang-orag yang tidak ada rumah tempat tinggalnya lagi, tidur dengan enaknya siang hari. Karena jika hari telah malam, yang laki-laki pergi menggarong dan yang perempuan pergi menjual diri. Namun nilai di sisi Tuhan di antara yang berbangga berpongah di atas mobil mengkilap itu sama saja dengan yang tidur di bawah jembatan. Keduanya tidak ada alas iman dalam hatinya untuk menerima percobaan rezeki melimpah atau rezeki terbatas.
 Sehingga dapat disimpulkan bahwa sifat negatif manusia sering lupa bahwa kaya miskin adalah cobaan, labil keimanan seorang kadang bertambah dan berkurang, dan kaya, miskin adalah sama-sama cobaan untuk menguji keimanan manusia.

QS. Fushshilat [41]: 51
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat [41]: 51)
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yakni ayat 49 dan 50 yang menjelaskan tentang keburukan manusia yang selalu menginginkan kenikmatan berupa banyak rizki, badan sehat, keuntungan dan sebagainya. Akan tetapi, saat telah dikabulkan keinginannya, manusia malah berpaling dari Allah SWT dan menyombongkan diri. Kemudian saat kesedihan menimpa diri mereka, manusia baru berdoa yang panjang-panjang.
Ini pun kufur juga namanya, yaitu kufur nikmat. Mengapa ketika mendapat nikmat kita akan berpaling daripada Allah SWT dan menjauhkan dari segala kegiatan. Sehendaknya diwaktu mendapat nikmat itulah kita mendekatkan diri kepada-Nya, jangan diwaktu mendapat susah baru mendoa panjang-panjang.
            Orang yang mukmin mendapat perimbangan di antara syukur dan sabar. Di waktu mendapat nikmat dia bersyukur dan ditunjukannya syukurnya dengan perbuatan. Di waktu mendapat susah dia bersabar, sebab dia percaya bahwa segala yang terjadi, tidak akan terjadi, kalau bukan takdir dari Allah SWT.
     Bersabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang shahih:
عَجَبًالِأَمْرِالْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذلِكَ لِاَحَدٍ إِلاَّلِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُشَكَرَ فَكَانَ خَيْرًالَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَفَكَانَ خَيْرًالَهُ (حديث صحيح)
“Menakjubkan orang yang beriman itu. Tiap-tiap peristiwanya baik belaka. Dan tidak ada yang begitu seorang pun kecuali orang Mu’min. Bila dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, maka menjadi baik buat dia. Dan jika ditimpa kesusahan, dia bersabar. Itupun menjadikan baik buat dia.”
Jadi teranglah bahwasanya manusia yang sampai lupa daratan diwaktu nikmat datang dan menyombong waktu lepas dari bahaya, tetapi gelisah berdoa panjang memanggil-manggil nama Allah SWT jika ditimpa kesusahan, semuanya bukanlah akhlak Mu’min, melainkan gejala-gejala dari kekufuran. Niscaya orang yang insaf akan nilai iman pada dirinya akan selalu berlatih jiwa jangan sampai berpengaruh gejala-gejala kekufuran itu pada dirinya. Iman kepada Allah SWT adalah benteng hati yang sangat, tetapi selalu pula wajib dijaga, dikawal dengan selalu mengingat Allah SWT. Untuk selalu mengingat Allah SWT, itulah gunanya Al-Qur’an harus diterima sebagai pegangan hidup. Sebab itu maka Allah SWT menurunkan kepada Rasul-Nya, pada ayat berikut ini:
            “Tanyakanlah: Bagaimana pendapatmu, jika ia datang dari sisi Allah. Kemudian itu kamu kufur kepadaNya.”(pangkal ayat 52). Yang dimaksud dengan dia dalam ayat ini ialah al-Qur’an. Kalau ditanya dari hati ke hati, mereka tetap mengatakan percaya kepada Allah SWT. Sekarang datang wahyu Allah SWT, yang tidak ada kebatilan padanya, baik di hadapannya atau di belakangnya; mengapa kamu kufur? Mengapa tidak mau percaya? Tidakkah dalam pendapatmu sendiri ada yang lebih benar dari al-Qur’an? Tidak ada.
            Kalau demikian: Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang bersilisih jauh?” (ujung ayat 25). Orang yang berselisih jauh ialah orang yang telah tersesat dari jalan yang benar, sehingga kian lama kian jauh, sehingga kian sukar baginya untuk kembali ke jalan yang benar.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa sifat negatif manusia yaitu selalu menginginkan kenikmatan yang banyak, oleh karena itu manusia hendaknya bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.

            Ada hal menarik yang memperkuat alasan saya untuk kagus kepada prof.Ali. di tengah-tengah pak prof menjawab beberapa pertanyaan dari para mahasiswanya, tiba-tiba.
Kring…kring…kring…
Terdengar suara handphone, ternyata handphone yang berbunyi adalah handphone milik pak prof. seketika itu juga, pak prof meminta maaf kepada kami semua atas kelupaanya menon-aktifkan handphonenya, beliau juga tidak menjawab panggilannya. Begutu proffesionalnya beliau dalam mengajar dan taatnya kepoada kesepakatan bersama.
            Teringat saat pertemuan ujian ketiga, salah satu dari kami, shofi mencoba melihat handphonenya yang ia simpan di dalam tas. Saat itu shofi duduk di kursi paling depan, posisi strategis yang paling terlihat dari kursi dosen. Berniat untuk melihat jam, karena shofi tidak manggunakan jam tangan dan di kelas pun tidak ada fasilitas jam dinding, namun ternyata berakibat shofi harus keluar dari kelas.
            “shofia, kamu sedang lihat handphone?” tanya pak prof denagn tegas
            “ini pak prof, mau lihat jam.” Jawab shofi dengan nada ketakutan
            “iyah, kamu pegang handphone, silahkan keluar dari kelas shofia. Sudah perjanjiankan kita tidak ada handphone dalam kelas?” perintah prof kepada shofi sebagai hukuman.
Seketika itu pula, suasana kelas menjadi sangat hening.
            “saya ini hanya ingin kita bisa konsisten dengan kesepakatan kita bersama.” Tegas pak prof.
Semenjak kejadian itu tidak ada satu pun mahasiswa yang beranu mengeluarkan handphone nya walaupn hanya sekedar untuk mengetahui waktu.



 


            Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Setelah pak prof kira cukup terhadap apa yang ia sampaikan, pak prof memberikan waktu kepada ust.Ainul untu menyampaikan materi. Jika dihitung, waktu kami untuk belajar sekitar tinggal 90 menit lagi, jadi kami bergerak cepat. Pak prof pamit diri dari kelas, dan menyerahkan kelas sepenuhnya kepada ustadz Ainul.
            “baik, segera berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, cepat karena waktu kita tinggal sedikit lagi.” Pinta ust. Ainul kepada kami
Kami semua segera pindah posisi dan mendekat dengan teman kelompoknya masing-masing.
            Materi yang dibahas pertemuan kali ini adalah prinsip bimbingan komseling; persuasuif, tidak mendikte atau memaksa, dioalogis, memberi kesempatan berfikir, dan menjaga kehormatan setiapa individu.karena materi yang diujiankan diambil dari tafsir Al Azhar, maka yang lebih banyak say abaca tentang materi ini dari tafsir Al Azhar saja.
            Pada bagian prinsip bimbingan konseling persuasif, tidak mendikte atau memaksa dalam tafsir Al Azhar diceritakan bagaimana asbabun Nuzul dari ayat ini. Cukup menarik bagi saya.
Menurut riwayat dari Abu Daud dan an-Nasa’i, dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dan Ibnu Mardawaihi dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas dan beberapa riwayat yang lain, bahwasanya penduduk Madinah sebelum masuk agama Islam, merasa bahwa kehidupan orang Yahudi lebih baik dari hidup mereka, sebab mereka Jahiliyah. Sebab itu di antara mereka ada yang menyerahkan anak kepada orang Yahudi untuk mereka  didik dan setelah besar anak-anak itu menjadi orang Yahudi. Ada pula perempuan Arab yang tiap beranak tiap mati, maka kalau dapat anak lagi, lekas-lekas diserahkannya kepada orang Yahudi. Dan oleh orang-orang Yahudi anak-anak itu di Yahudikan. Kemudian orang Madinah menjadi Islam, menyambut Rasulullah SAW dan menjadi kaum Anshar. Maka setelah Rasulullah SAW pindah ke Madinah dibuatlah perjanjian bertetangga baik dengan kabilah-kabilah Yahudi yang tinggal di Madinah itu. Tetapi dari bulan ke bulan, tahun ke tahun perjanjian itu mereka mungkiri, baik secara halus atau pun secara kasar. Akhirnya terjadilah pengusiran atas Bani Nadhir yang telah dua kali kedapatan hendak membunuh Nabi SAW (lihat tafsiran Surat Al-Hasyr). Lantaran itu diputuskanlah mengusir seluruh kabilah Bani Nadhir itu keluar Madinah. Rupanya ada pada Bani Nadhir itu anak orang Anshar yang telah mulai dewasa, dan telah menjadi orang Yahudi. Ayah anak itu memohonkan kepada Rasulullah SAW supaya anak itu ditarik ke Islam, kalau perlu dengan paksa. Sebab si ayah tidak sampai hati bahwa dia memeluk Islam, sedang anaknya menjadi Yahudi. “Belahan diriku sendiri akan masuk neraka, ya Rasulullah!” Kata orang Anshar itu.
Dalam kejadian pengusiran Bani Nadhir itu sudahlah sangat terang perbedaan soal politik dengan soal keyakinan agama. Mereka diusir dari Madinah, karena mereka hendak membunuh Nabi SAW Tetapi mereka tidak dipaksa masuk Islam, dan anak orang Arab sendiri yang telah memeluk agama Yahudi tidak dipaksa supaya memeluk agama ayah-bunda mereka.
            Menarik bagi saya, ketika kisah pengusiran bani nadhir itu dapat menarik kesimpulan bahwa adanya perbedaan soal politik dengan keyakinan agama. pada saat ustadz Ainul memberikan kesempatan untuk bertanya, saya mengambil kesempatan pertama pada sesi pertanyaan.
            “dalam tafsir Al Azhar disini diceritakan tentang pengusiran Bani nadhir, dijelaskan pula ahea kisah tersebut memberikan gambaran bahwa adanya perbedaan anatar urusan poliotik, kenegaraan itu berbeda dengan urusan agama. Indonesia, negeri kita tercinta ini memang sudah kita ketahui menrapkan adanay senggangan antara urusan Negaradenagn agama, hal ini menimbulkan pro dan kontra dikalngan masyarakat. Setahu saya myoritas dari ummat islam ini berada pada posisi kontra. Saya hanya ingin minta pendapat ustadz saja mengenai hal ini.” Tanya saya dengan penuh rasa penasaran
            “ jadi begini yah, sebenarnya pemisahan antar urusan agama dan Negara itu tidak berarti pisah secara keseluruhan. Saya berbicara seperti ini bukan karena saya ini liberal atau apalah namanya. Tetapi, masih ada nilai-nilai islam yang ada dalam aturan Negara, karena jika kita ingin mengubah system Indonesia menjadi system islam cukup sulit. Berbeda dengan Negara-negara timur tengah, disana kan memang system pemerintahannya menggunkan system islam. Seperti, jika ada yang mencuri poting tanah, jika ada yang zina yang di raajam. Indonesia kan tidak seperti itu,kalaupun kita ingin memaksakan merubahnya itu tidak mustahil namun sangat sulit, karena ya sudah seperti inilah Indonesia.”
            “begitu Zahra, bagaimana bisa diterima?” tanya ustadz kepadaku setelah menjelaskannya dengan panjang lebar.
            “ya ustadz bisa di tangkap.” Jawabku singkat
            “masih kurang puas dengan jawabannya? Atau cukup?”
            “cukup ustadz, karena saya hanya ingin tahu bagaimana pendapat ustadz saja, terima kasih ustadz.” Jawabku untuk meyakinkan ustadz atas kepuasanku dengan penjelasannya.
            Saya dan nadia teringat kejadian dua hari yang lalu, tepat hari sabtu. Kejadiannya di masjid, pagi menjelang siang, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mewawancarai kami dengan etika yang kurang sopan menurut saya, karena dia datang tanpa slam, tanpa permisi,memperkenalkan diri pun tidak, langsung to the point bertanya pendapat kami tentanh isis dan syiah.
            Diskusi kami bersama laki-laki itu kami ceritakan keopada ustadz Ainul.
            “ kemarin ustadz, saya sama Zahra dan asatu lagi teman kami lagi nongkrong di masjid.”ujar nadia mengawali cerita.
Ustadz tertawa mendengar ucapoan nadia kalau kami sedang nongkrong di masjid.
            “ lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki yang enyodorkan handphoneny dengan gaya orang yang ingin merekam suara kami selayaknya wartawan. Tetapi yang membuat kami tidak nayaman adalah dia adatang tanpa salam, tanpa permmisi, bahkan memperkenalkan dirpun yidak. Langsung saja dia bertanya bagaimana pendapat kami tentang ISIS di Indonesia ini dan syiah. Zahra atau saya tidak ada yang berani enjawab karen atkut salah, jadi yang menjawab itu  teman kami itu. Orang itu meminta kami membuka surat As-Syura’[42]: 23.
‘itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad) “Aku tidak meminta kepadamu seseuatu imbalan apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan barangsiapa mengerjakan kabaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha mensyukuri.” Semua teman-teman ikut membuka terjemah surat ini dan membecanya.
            “setelah kami baca artinya, laki-laki itu menjelaskan kalau yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga  hanya Fatimah, Ali dan keluarga-keluarganya saja, ukan kita seagai ummatnya. Laki-laki itu juga menyarankan kami untuk terus membaca biografi Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.” Lanjut nadia
Ustadz Ainul manganggukan kepalanya pertanda kalau beliau menegrti dengan apa yang nadia ceritakan.
            “di kajian kemarin juga sudah saya jelaskan bagaimana sejarah isis, ayat yang sedang kita bahas ini juga bukan ayat yang main-main. Allah menjelaskan ‘tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam), sungguh telah jelas(perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada thagut dan beriman keoada Allah, maka sungguh, dia telah berpegangt teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putis. Allah Maha Mendengar, maha mengetahui.’ (QS Al Baqara [2]: 256).”
            “ayat tidak ada paksaanya dalam beragama ini diapait oleh dua tayat yang diawali dengan lafadz Allah. Pada ayat sebelumnya allah berfirman: ‘ Allah, tidak ada tuhan selain dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk, tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at disisi-Nya tanpa seizing-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan pa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan tidak merasa berat memlihara keduanya dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”(QS Al B aqarah [2]: 255). Dan ayat setelahnya, ‘ Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya keoada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.’ (QS Al-Baqarah [2]: 257”
            “ini menunjukkan bahwa allah benar-benar tidak memaksa seseorang dalamagama. Karena yang baik dan buruk itu sidah jelas, terserah orang meggunakan akal dan pikirannya untuk memilih jalan yang buruk atau yang baik. Islam itu indah yah.” Begitu ustadz Ainul menjelaskan panjang lebar.
Tidak puas sampai disitu, asisten dosen alumni unversitas al azhar kairo ini tetap melanjutkan penjelasannya.
            “kita lihat dalam surat pertama dalam Al-Quran, sifat allah apa yang disebutkan? Maha pengasih dan Maha Penyanyang. Bukan Maha Perkasa. Ini juga dalil uyang meunjukkan kaalu islam itu agama yang penuh kasih sayang bukan penuh dengan peperangan dan  permusuahan. Dan lagi-lagi sifat Allah ini mengapit kalimat pujian kepada Allah. ‘segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.’( QS Al Fatihah [1]: 2), ayat ini diapit oleh dua ayat yang mennjukkan sifat allah yang penagasih. ‘Dengan menyebut nama Allagh, Yang Maha Pengasih, Maha Penyanyang.’(QS Al Fatuhah[1]:1), ‘Yang Maha pengasih, Maha penyanyang.’ (QS Al Fatihah[1]: 3). Jadi, sudah sangat jelas islam itu penuh dengan kedamain, kasigh sayang, bukan agama yang membawa peperangan.” 
            Setelah panjang lebar menjelaskan, tiba-toba terdengar suara adzan, yang menjadi alarm bahwa kami harus menyelesaikan diskusi hari ini.
            “kita cukupkan saja pertemuan hari ini, wassalamu’alaikun warahmatulahi wa barakatuh.”
            “wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.” Jawab salam kami dengan serempak.






            Usai sudah materi dari tafsir ayat konseling, begitu juga dengan berakhirnya ujian yang keenam. Lebih tepatnya lagi selesai untuk ujian tulis. Karena hidup itu masih koma, jadi tugas dan ujianpun masih koma belum titik. Ujian tulis usai itu berarti ujian lisan menanti.
“Jadi nanti ujian nya sama ustadz, tahsin dan tahfidzul ayat-ayat yang sudah kit ujiankan itu.” Jelas pak prof mengenai sistem ujiannya.
            Ujiannya tidak menggunakan waktu kuliah hari senin, tetapi pakai waktu kajian kami bersama ustadz Ainul, hari sabtu. Sontak langsung dalam benakku,
“setiap kajian sabtu itu, ustadz tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia, selalu bahasa arab. Lalu bagaimana dengan ujiannya? Berbahasa arab kah? Oh tidaaaak, tidak sanggup rasanya diri ini. “ gumamku dalam hati.
Karena perasaan yang takut akhirnya kuberanikan diri mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan mengenai ujian lisan kali ini.
            Ketika saya mengangkat tangan, pak prof langsung mempersilahkanku untuk bertanya.
“ya silahkan mba.” Ujar pak prof. pak prof memang terkadang memanggil kami dengan sebutann mba dan mas sebagaimana sebutan untuk anak dewasa di jawa, walaupun kami ini adalah mahasiswa beliau.
“ini pak, ujiannya nanti pakai bahasa Indonesia atau bahasa arab?” tanyaku to the point dengan perasaan cemas menanti jawaban dari pak prof.
“oh. Ya bahasa Indonesia saja. Jadi nanti ustadz membacakan ayat anda tinggal melanjutkan saja. Gampang toh?” jawab prof
Point pertamalah yang membuatku tenang. Akhirnya bahasa Indonesia. Sistem ujianya itu melanjutkan ayat yang ustadz bacakan. Itupun tidak semua ayat, 46 tapi paling hanya 4-5 saja. Tetapi, semua ayatnya harus dihafal, karena kita tidak tahu ayat mana yang akan menjadi bahan uji kita.
            “biasanya kalau hari sabtu kajiannya dimana?” tanya pak prof.
            “Di masjid kampus pak.” Jawab kami serentak.
            “jadi setiap minggu ustadznya yang kesini?”
“iyah pak?” jawab kami singkat.
            Ternyata pak prof bertanya itu karena punya ide yang sangat brilian untuk ujian nanti. Ahaaaa
            “besok gantianlah, ujiannya di rumah ustadz aja. Ya minimal the hangat mah ada yah ustadz.” Ujar pak prof sambil menatap ustadz dengan sedikit tertawa.
Ustadz Ainul hanya tersenyum singkat saja, kita pun ikut tertawa dan menyetujuinya dengan sangat antusias.
“Lho yah seharusnyakan memang timba yang nyari sumur toh? Bukan sumur yang cari timba?” jelas pak prof masih dengan candaannya.
“iyah benar pak” jawab kami sambil tertawa senang.
Timba yang dimaksud pak prof adalah kami, para mahasiswa, sedangkan sumur adalah ustadz. Timba kosong yang membutuhkan air untuk diisi dan air itu berada pada sumur, sebagaimana mahasiswa yang sangat membutuhkan ilmu yang ilmu itu ada pada ustadz. Mahasiswa yang membutuhkan ilmu yang saharusnya lebih aktif mencari, mengejar ilmunya.
Akhirnya diputuskan untuk ujiannya lisan minggu depan bertempat di tempat ustadz Ainul. Yah sangat lumayan sih buatku, karena aku iji termasuk orang yang jarang jalan-jalan. Jalan-jalan cuman kalo ada tujuan tertentu aja, makanya kalo mau tanya tentang Surabaya kesini, sepertinya salah alamat deh, jawabannya pasti hanya gelengan kepala aja.

            Setelah kuliah hari ini usai kami tidak pulang terlebih dahulu untuk membicarakan bagaimana rencana pemberangkatan kami ke tempat ustadz Ainul untuk ujian lisan disana. Munir dan Rifqi yang memimpin musyawarah kali ini, karena mereka berdualah yang pernah sillaturrahmi ke rumah beliau.
“Tempatnya cukup jauh, jadi nantti sebaiknya kita sewa angkot saja, sekitar dua angkot untuk putra satu dann putri satu. Ya paling kita bayar sepuluh ribu rupiah untuk satu orang. “ jelas Munir dengan singkat.
“iyah..iyah sudah sepakat ko sepakat.” Timbal salah satu temanku.
Memang saat itu sebenarnya semua sudah merasa sangat lelah,kita memang tidak di ajak lari-larian oleh ustadz. Tetapi, kita diajak berpikir, dan berpikir ini merupakan hal yang cukup melelahkan yang menghabiskan cukup banyak tenaga. Jadi, teman-temn sepakat saja dengan apa yang disampaikan Munir karena sudah tak tahan ingin beristirahat sejenak.
             
           

            Selama satu minggu kami semua sibuk mempersiapkan diri untuk ujian lisan nanti. Tidak hanya disibukkan dengan hafalan, tugas-tugas matakuliah lain yang sudah berteriak ingin diselesikan juga sama-sama menghantui mahasiswa jurusan bimbingan konseling islam semester dua kelas b3 ini. Mahasiswa memang disibukkan dengan tugas, karena metode pembelajaran yang menuntut mahasiswa harus lebih aktif daripada dosennya. Menurutku pribadi metode ini memang sangat pas untuk para mahasiswa, karena jika selamanya kita disuapi, selama itu pula kita tidak akan tahu bagaimana cara mengambil nasi dan lauk pauk, berapa jumlah nasi yang sesuai dengan porsi kita, bagaimana caranya memegang sendok. Dulu, kita hanya bisa protes dengan apa yang diberikan guru, setidaknya saat ini sedikit demi sedikit kita mulai paham betapa mahalnya harga ilmu itu.
            Seperti biasanya sebelum melaksanakan ujian merupakan sebuah kewajiban buatku untuk meminta doa kepada ummi. Karena doa ummi lah yang menjadi kekuatan tersendiri buatku. Ummi tidak pernah menuntut banyak aku harus mendapatkan nilai sempurna, tetapi ummi hanya ingin apa yang aku dapatkan itu benar-benar menjadi jembatanku agar bisa lebih dekat dengan Allah SWT.
            Saat ini aku berada sangat sangat jauh dengan ummi. Aku pergi jauh dari ummi setelah beberapa bulan ummi menempuh hidup barunya dengan keluarga yang baru. Iyah, ummi menukah lagi, ummi memberikanku abi baru dan 5 adik baru.
            Ketika umurku 4 tahun, ayahku meninggal dunia karena sakit gagal ginjal. Penyakit ini memang sudah abi derita sejak ia masih kecil. Sungguh, sangat besar kuasa Allah, Allah yang memberi abi kekuatan hingga ia mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang cukup lama dengan penyakitnya yang tidak ringan. Pamanku sering bercerita kepadaku tentang bagaimana masa kecil abi.
            Abi adalah anak yang pandai, walaupun ia tidak pernah mengenyam kursi pesantren tetapi ia pandai dalam membaca kitab dan hafalan Al Qurannyapun tidak perlu diragukan lagi. Sakitnya lah yang menjadi penghakang ia tidak disekolahkan di pesantren oleh abah (ayah dari abi) tidak seperti saudara abi lainnya yang menempuh perjalanan pendidikannya di pesantren. Tetapi, bukan berarti abi tidak bisa sama seperti sadaranya yang lain. Abah selalu sabar untuk mengajarkan abi tentang agama. justru sakitnya itu yang membuat abi mendapat kelebiha, selain ia mahir dengan pelajaran umum yang ia dapatkan dari sekolahnya, ia juga mahir dalam hal agama dari sekolah pribadinya dengan abah.
            Aku masih ingat saja, saat itu paman pernah bercerita tentang kisah cinta abi dengan ummi. Dulu setelah abi melamar ummi sebelum ummi menjawab, abah mengingatkan terlebih dahulu kepada ummi mengenai penyakit abi. Abi adalah seorang ahli medis, jadi ia bisa mengukur sendiri sudah separah apa penyakitnya dan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
“Dida, (nama ummi), Dida juga sudah tau tentang penyakit Adang (nama abi), mungkin Adang tidak bisa menemani neng Dida dalam waktu yang cukup lama. Neng Dida siap jika dipertengahan jalan pernikahan ditinggal sama Adang?” tanya abah kepada ummi untuk meyakinkan
“ Insya Allah.” Balas ummi
            Bagi ummi, menemani akhir waktu kehidupan abi adalah bukti cinta ummi kepada abi. Ini merupakan abdi ummi kepada abi. Ummi sangat percaya dengan takdir Allah, segala sesuatunya sudah Allah bungkus dengan seindah mungkin. Dengan cara inilah salah satu jembatan ummi untuk mendapat syurganya Allah. Ummi siap untuk ditinggalkan pada pertengahan jalan, dan abi pun sudah siap meninggalkan. Hingga akhirnya ummi dan abi menikah.
Inilah kisah cinta sejati yang sesungguhnya. Cinta yang didasari dengan cintanya kepada Allah. Keyakinan cinta yang menjadi kekuatan, ketulusan cinta yang menjadi penyempurna.
            Dalam film ketika cinta bertasbih Anna Althafunnisa salah satu tokhnya pernah menyampaikan sebuah puisi tentang cinta.
Cinta
Sekalipun cinta telah kuuraikan
Dan kujelaskan panjang lebar
Namun jika cinta kudatangi
Aku jadi malu, pada keteranganku sendiri
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan
Namun tanpa lidah cinta terasa gersang
Sementara pena tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping
Begitu sampai pada cinta
Dalam menguraikan cinta
Akal berbaring tak berdaya
Bagaikan keledai berbaring dalam lumpur
Dan sebuah puisi cinta karya meyda shafira.
Tausyiah cinta
Bagaimana menjelaskan rindu ini kepada seseorang
Entah kepada siapa, dan entah ada dimana
Untukmu yang berada jauh disana
Terkadang mata ini rindu terhadap hati ini
Karena engkau berada di hatiku tidak Nampak dimataku
Aku tidak memiliki alasan yang pasti
Mengapa saat ini aku masih menunggu
Walaupun engkau tidak meminta untuk ditunggu dan diharapkan
Yang aku tahu
Kelak aku menyempurnakan hidup bersamamu
Disini, disisimu
Maka saat hati ini mengenal fitrahnya
Aku ingin mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya
Sekalipun kita tidak pernah bertemu
Mungkin saat ini kita yengah melihat langit yang sama
Tersenyum menatap bulan yang sama
Dan disanalah…
Tatapanmu dan tatapanku bertemu
            Abi dan ummi telah mengajarkanku bagaimana hakikat cinta yang sebenarnya, bahkan mereka ajarkan itu sebelum aku melihat wajah mereka. Jasad abi boleh dikatakan sudah tiada, namun cinta abi masih sangat terasa sampai sekarang. Cinta tulus untuk ananda tercinta. Beribu kecupan kasih sayang yang dulu abi berikan kepadaku yangsaat ini telah menjadi penguat bagiku. Hingga aku mampu berdiri tegak saat ini.
            Selama 13 tahun lamanya, ummi membesarkanku dengan 2 saudaraku dengan tangan dan kakinya sendiri. Ummi adalah sosok wanita yang sangat tegar. Ia memiliki mental sangat kuat. Kepercayaannya atas pertolongan Allah menjadi kekuatan tersendiri buat ummi.
            Sebagai wanita normal, ummi membutuhkan perlindungan seorang laki-laki. Awalnya kami sebagai anak tidak mengerti akan hal itu. Karena yang kami tahu ummi cukup mampu mebiayai kami hidup, ummi cukup bahagia hidup bersama kami dan kami mampu melindungu dan menjaga ummi. Namun satu perstu dari kami pergi jauh meninggalkan ummi untuk merantau mencari ilmu. Selama satu tahun ummi tinggal sendiri. Jujur, sebenarnya hati ini tak mampu membiarkan, namun ummi selalu meyakinkan kepada kami bahwa ummi baik-baik saja. Ummi bahagia disini. Ummi hanya ingin melihat kami menjadi orang yang sukses nanti.
            Hingga suatu hari datanglah seorang laki-laki yang memiliki niat untuk memperistri ummi. Ia adalah duda beranak lima. Hati ini tak sanggup mnerima orang baru, terlebih seseorang yang harus kupanggil abi kelak.aku menoolak,  tapi ummi butuh orang itu. Allah berkata lain. Allah memang telah menakdirkan laki-laki itu untuk ummi. Dan saat ini dialah yang kusebut abi dalam kehidupanku sekarang.
            Ummi menikah saat akhir masa sekolahku di ttingkat aliyah. Alhamdulillah, memang rencana Allah tidak ada yang tidak baik. Walaupun awalnya hati ini menolak, sekarang hati ini merasa tenang karena saat ummi sudah ada yang menjaga. Tetapi, aku masih tetap intens untuk menghubungi ummi di rumah, terlebih saat-saat ujian kuliah.
            Ummi selalu berpesan,
“ummi selalu doain anak-anak ummi, tinggal ikhtiarnya yang ditingkatkan. Bagaimana kabar tilawahnya? Tahajjudnya lancar? Senin kamisnya masih suka bangun gak?”
Ummi selalu mengajarkan kepadaku bahwa tanpa bantuan Allah apapun yang kia lakukan tidak ada apa-apanya. Rizqi, jodoh, dan semua takdir kita ada pada tangan-Nya. Sungguh malu hati ini jika tak meminta pertolongan dan selalu bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, ummi selalu mengingatkanku untuk selalu betamu kepada-Nya pada sepertiga malam, membaca Al Quran. Sesosok wanita terhebat. Malaikat tanpa sayap, ummi….
            Ummi selalu mengajarkan kepadaku betapa pentingnya bergantung kepada Allah SWT. Tilawah, tahajjud, dhuha, dzikir, tidak serta ummi suruh tanpa bimbingan. Ummi memantaunya dari jauh.
            “ biar tetap istiqomah ngajinya satu hari satu juz, coba ikut ODOJ (one day one juz) .”
ODOJ adalah komunitas yang didalamnya berisi orang-orang yang bertekad untuk tilawah satu hari satu juz. Sistemnya dengan menggunakan grup whatsaap. Dalam satu grup terdiri dari 30 anggota dan 1 admin. Walaupun hanya berbentuk grup media sosial, namun secara administrasi bisa terhitung sangat rapih. Aturan yang diberlakukanpun sangat disiplin dan tertib, begitu juga sanksi yang diberikan kepada anggot yang melanggar aturan.
            Setelah satu hari kita selesai membaca satu juz, maka kita laporan ke grup bahwa kita telah kholas atau selesai membaca Al-Quran 1 juz. Bagi perempuan yang sedang halangan, diperbolehkan untuk mendengarkan murattal atau membaca artinya saja. Namun, tetap harus satu juz. Jika dalam tiga hari kita tidak memberikan kabar kholas, maka konsekuensinya adalah dikeluarkan dari grup.
            Sebenarnya, jika kita berpikir nikmat secara duniawi. Jelas, sungguh beeratlah mengaji satu juz dalam satu hari. Apalagi ini dikejar-kejar oleh waktu. Namun, ikhtiar kita untuk mendekatkan diri dengan Allah, dan dengan Al Quranlah yang yang membuat hati ini terus berusaha untuk terus bisa tetap ada dalam grup. Dari  ODOJ ini tersimpan banyak motivasi. Ketika melihat teman-teman grup yang sudah kholas, maka hati ini juga ikut tergerak untuk segera kholas. Disinilah ada dorongan untuk bisa lebih sengat lagi dalam mengaji.
            Selain didalamnya kita menjadi anggota grup, belajar untuk istiqomah dalam mengaji. Kita juga bisa menyambunkan tali silaturrahmi dengan anggota lain. Kerana, ODOJ ini adalah komunitas nusantara, jadi anggota terdiri dari muslim seluruh penjuru nusantara pula. Di grupku sendiripun ada yang dari Madura, Palembang, Kalimantan. Disana kita saling berbagi, saling cerita. Buatku pribadi, dalam grup aku terhitung anggota yang paling muda, karena sebagian besar adalah ibu-ibu. Banyak pelajaran yang aku bisa dapatkan dari cerita pengalaman seorang ibu rumah tangga yang bisa menjadi bekal untukku nanti.
            Tujuan kami setiap hari adalah khatam Al-Quran dalam 1 hari. Namun, itu bukan tujuan utama. Tujuan utam kami adalah saling mendukung, saling mengingatkan. Tidak lain tidak bukan adalah dakwah. Di dalamnya juga terdapat perlombaan. Yaitu, berlomba-lomba dalam kebaikan. Siapa yang paling cepat kholas, siapa yang paling lama.
            Salah satu anggota ODOJ grup   , Tyas pernah membuat syair cantik untuk ODOJ.
One day one juz
Kadang kholas di awal
Kadang jadi paling akhir,
Jadi penentu kahatam atau tidaknya grup
Kadang semangat laporan
Kadang lupa sampai harus diingatkan pj harian atau admin
Kadang one day one juz terasa mudah sekali
Kadang terasa ingin melambaikan tangan saja
Tidak sanggup
Ketika orang tertidur kamu terbangun
Itulah sulitnya
Ketika orang merampas kamu membagi
Itulah peliknya
Ketika orang menikmati kamu menciptakan
Itulah peliknya
Ketika orang mengadu kamu bertanggung jawab
Itulah repotnya
Makanya tidak banyak orang bersamamu disini
Mendirikan imperium kebenaran
Pantang tidur sebelum one day one juz?
Berani?
Semangaaaaaat !!!!!
Kami tahu,
Bahwa seharusnya kami malu
Untuk khatam sehari sekali saja
Kami harus kumpulkan 30 orang terlebih dahulu
Sedang Imam Syafi’I mampu menyelesaikannya dalam sehari
Seorang diri
Terimalah langkah kecil kami
Duhai rabb semesta alam
Semoga Engkau meridhai

            Alhamdulillah, dengan bergabung dengan grup ODOJ, insya Allah. Aku mulai belajar untuk istiqomah mengaji setiap harinya.
            “teteh, bagaimana kabar tahajjud sama dhuhanya?” tanya ummi
            “Tahjjud agak bolong-bolong mi. dhuha kadang ada kuliah pagi sampai siang.”
            “tapi, antisipasi aku kesiangan tahjjud, aku suka shalat sebelum tidur. Soalnya takut kesiangan, trus ketinggalan tahajjud.” Jawab ku
            Dulu, pas ummi tawarkan ODOJ kepadaku ummi juga sempat tawakan ikut grup KUTUB (komunitas tahajjud berantai). Tapi, dulu aku masih belum berani untuk gabung, karena tahjjudku masih nol sekali.
            “gak apa-apa teh. Nama nya juga belajar, ikut grup biar bisa lancar tahajjudnya, bisa lebih kepantau.” Tawar ummi kepadaku.
            “tidak ummi, ODOJ saja dulu. Insya Allah step by step.”
            Hingga suatu hari aku merasa benar-benar kepayahan untuk bisa istiqomah tahjjud setiap harinya. Bahkan pernah dalam waktu satu minggu aku tidak tahjjud sama sekali. Hingga aku putuskan untuk ikut grup KUTUB.
            “mi, tahajjudku payah banget, mau ikut grup aja deh. Coba dulu bismillah.”
 Pintaku kepada ummi .
            “ya sudah nanti coba ummi daftarkan yah, tapi sabar menunggu.”
            “iyah mi, tak masalah.”
            Beberapa hari kemudian aku telah tergabung dalam grup kutub 143.
            “Assalamu’alaikum dek Zahra, Ahlan wa ahlan d grup kami.” Sapa mba maya.
Mba Maya adalah admin di grup ku.
            “mba ini sistemnya gimana?” tanyaku
            “ dek Zahra nanti tinggal laporan kholas tahjjud dan dhuanya. Lima kali tidak laporan dek Zahra bisa dikeluarin. Semoga bisa istiqomah yah de.” Jelas mba Maya
            “waahh.. ternyata ada sanksinya juga toh.” Pikirku dalam hati
            “ trus kalau kita tidak tahjjud bisa mengirim artikel islami, atau memperbanyak raka’at dhuha, atau bersadaqah dek.” Tambah mba Maya
            “ oh gitu yah mba.”
            “mudah-mudahn aku bisa istiqomah yah mba. Minta dukungannya juga dari semuanya.”
Hari pertamaku di KUTUB, aku mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari semua anggotanya. Mereka semua mengajak kepadaku untuk saling membantu mengingatkan. Agar kita semua bisa istiqomah tahjjud dan dhuha. Ciptakan Indonesia bertahajjud.
            Setiap satu bulan sekali, biasa ada kajian online. Jadi pemateri menyampaikan materi berupa pesan teks atau pesan suara. Yang nanti akan dibuka sesi pertanyaan. Selain itu, setiap harinya kami mendapatkan artikel islami atau kisah-kisah inspiratif dari para sahabat atau anggota sendiri. Selain kita diajak untuk bekerja keras, kami juga diberikan vitamin, dengan materi-materi yang membuat kita bisa terus semangat untuk istiqomah melaksanakan tahajjud dan dhuha.
            Kemarin, ada satu kisah dari salah satu anggota kutub grup 209 akhwat, yang berbagi ceritanya kepada kami.
Bismillahirrahmanirrahiim
Tak kenal maka tak sayang
Aku hanyalah manusia yang biasa-biasa saja..
Perempuan yang mempunyai impian yang banyak…
Perempuan yang mempunyai tujuan hidup Dunia Bahagia Akhirat Syurga
Perempuan yang banyak permintaan kepada Rabb-ny..
Perempuan yang mengaku mencintai Allah, namun ibadahnya pas-pasan…

Sewaktu penyusunan skripsi, aku bertekad untuk menjaga shalat malamku, minggu pertama berjalan dengn lancar meskipun teman satu kos ku selalu setia menggedor kamarku sampai tiga buah rumah mendengar lengkingan suaranya. Setelah minggu kedua semangatku mulai kendor, ya aku anggap itu wajar karena iman itu mengalami fluktuasi.
Minggu ketiga semakin parah, aku hanya melakukan satu kali shalat malam dank au tahu teman, setiap aku konsul tanpa shalat tahjjud aku sering dimarahi oleh dosen pembimbingku. Entah itu kesalahan di skripsiku atau bahkan  sesuatu yang tidak aku lakukan.
Bulan berikutnya aku bertekad seminggu tiga kali aku melaksanakan shalat tahajjud. Dan Alhamdulillah atas kasih sayang Allah aya pun lulus dengan IPK tertinggi dan nilai ujian saya dapat A, mungkin itulah salah satu keajaiban tahajjud yang terjadi kepadaku.
Pasca wisuda akupun pulang ke kampong halaman, dan disana aku sering mendengar sebuah kata yang asing bagiku, kata bernama KUTUB, apa itu KUTUB? Pikirku dalam hati. Kenapa sahabatku ini sering menyebut kata itu, dan aku pun mencoba menanyakan kepada sahabat ku itu agar rasa penasaranku sedikit berkurang. Namun sayangnyaaku tidak mendapatkan jawaban yang pas dari sahabatku itu.
            Tak lama setelah itu, kami shalat ashar di masjid agung kotaku disana, ku jumpai seorrang ikhwan yang memakai jaket bertuliskan KUTUB. Seketika itu rasa penasaranku kembali kembali menggeluti otakku, ku perhatikan belakang ikhwan itu dan aku temukan sebuah kalimat komunitas tahajjud berantai . rasa ingin tahuku semakin besar apa sih KUTUB itu, dan aku pun menyampaikan keinginanku untuk bergabung di KUTUB 209 yang masyaa Allah anggotanya adalah bidadari-bidadari dunia perindu syurga . mereka luar biasa semangatnya. Semoga kita selalu istiqomah dalam jalan ini. Bersatu dalam bingkai cinta kepada-Nya…


            Dari kisah itu, aku tahu bahwa Allah tidaj pernah maninggalkan janjinya. Kepada siapa saja yang selalu meminta kepadanya. Dan yang paling penting juga yang selalu bersyukur kepadanya.  Namun, sayangnya sedikit sekali dari hamba-Nya yang bersyukur. Sebagaimana Firman-firman –Nya dalam Al Quran.


 “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagi kalian di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kalian bersyukur.” (QS. Al-A’raaf [07]:10)
a.       Munasabah
Pada QS. Al-A’raaf [07]: 09 menjelasan tentang orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya. Merekalah orang yang merugikan diri sendiri karena mengingkari ayat-ayat-Nya. Maka QS. Al-A’raaf [07]: 10 merupakan penjabaran dari ayat sebelumnya bahwa salah satu ciri mengingkari ayat-ayat Allah SWT adalah tidak pandai bersyukur terhadap sumber penghidupan yang telah Ia sediakan.

b.      Tafsir
Allah SWT berfirman, mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya perihal karunia yang telah Dia berikan kepada mereka, yaitu Dia telah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka, dan Dia telah menjadikan padanya pasak-pasak (gunung-gunung) dan sungai-sungai, serta menjadikan padanya tempat-tempat tinggal dan rumah-rumah buat mereka. Dia memperbolehkan mereka untuk memanfaatkannya, dan menundukkan awan buat mereka untuk mengeluarkan rezeki mereka dari bumi. Dia telah menjadikan bagi mereka di bumi itu penghidupan mereka, yakni mata pencaharian serta berbagai sarananya sehingga mereka dapat berniaga padanya dan dapat membuat berbagai macam sarana untuk penghidupan mereka. Tetapi kebanyakan mereka amat sedikit yang mensyukurinya.

c.       Kesimpulan
Kebanyakan dari manusia seringkali tidak bersyukur terhadap sumber penghidupan yang telah Allah berikan.
 “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba [34]: 13)
a.       Munasabah
Pada QS. Saba [34]: 12 menjelaskan tentang jin yang bekerja kepada Sulaiman atas izin-Nya. Maka QS. Saba [34]: 13 merupakan penjabaran dari ayat sebelumnya, yaitu menjelaskan tentang pekerjaan jin tersebut diantaranya membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besarnya seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap berada di atas tungku.
                                                                                                    
b.      Tafsir
Allah berfirman menyerukan kepada keluarga Dawud agar beramal dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang saleh sebagai tanda syukur atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, walaupun sesungguhnya amat sedikit sekali dari hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan berterima kasih atas segala pemberian Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الْصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفُ اللَّيْلِ وَ يَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَ يَنَامُ سُدُسَهُ وَ أَحَبُّ الصّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَلَايَفِرُّ إِذَالَا قَى
“Cara bersembahyang yang paling disukai Allah, ialah cara sembahyangnya Dawud, ia tidur separoh malam, bersembahyang sepertiganya dan tidur lagi seperenamnya. Dan cara berpuasa yang paling disukai Allah, ialah cara puasanya Dawud, ia berpuasa sehari dan berbuka sehari dan ia tidak lari bila menghadapi musuh.”
c.       Kesimpulan
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersyukur, tetapi seringkali mereka kufur nikmat.

a.       Munasabah
Pada QS. Al-Hajj [22]: 62 dijelaskan bahwa Allah Mahabesar dan Dia-lah Tuhan yang Hak. Maka QS. Al-Hajj [22]: 66 merupakan penjabaran dari ayat sebelumnya bahwa salah satu tanda kebesaran-Nya adalah dapat menghidupkan kemudian mematikan manusia, kemudian Ia hidupkan lagi mereka di hari kebangkitan.

b.      Tafsir
Adapun firman Allah SWT QS. Al-Hajj [22]: 66 sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا اللَّهِ وَ كُنْتُمْ وَ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan?” (QS. Al-Baqarah [02]: 28)
قُلِ اللَّهُ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِ وَلَاكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Katakanlah, ‘Allah-lah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 26)
Dan firman Allah yang mengatakan:
قَالُوْا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ
“Mereka menjawab, ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Al-Mu’min [40]:11)
Makna yang dimaksud oleh ayat ini ialah ‘mengapa kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah dan menyembah selain-Nya bersama Dia, padahal Allah sendirilah yang menciptakan, yang memberi rezeki, dan yang mengatur.’
Firman Allah SWT:
وَهُوَ الَّذِي اَحْيَاكُمْ
      “Dan Dia-lah yang telah menghidupkan kalian.” (QS. Al-Hajj [22]:66)
Yaitu menciptakan kalian, padahal sebelumnya kalian bukanlah merupakan sesuatu yang disebut-sebut; kemudian Dia menjadi kalian.
ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ
 “Kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (lagi).” (QS. Al-Hajj [22]: 66)
Yakni di hari kiamat kelak.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُوْرٌ
 “Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj [22]: 66)
Kafir di sini berarti ingkar akan nikmat Allah SWT.

c.       Kesimpulan
Allah Mahakuasa untuk menghidupkan dan mematikan manusia, namun mereka seringkali kufur nikmat terhadap kebesaran-Nya.
           
            begitu menurut tafsir ibnu katsir.

            sedikit sekali dari hamba Allah yang ingat akan semua nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya.
1.             كفر النعمة
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنا لَكُمْ فِيها مَعايِشَ قَلِيلاً ما تَشْكُرُونَ (10(
﴿الأعراف 7/ 10﴾

المناسبة
بعد أن أمر الله تعالى الخلق بمتابعة الأنبياء عليهم السلام وبقبول دعوتهم، ثم خوفهم بعذاب الدنيا: وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْناها وبعذاب الآخرة من وجهين: السؤال والحساب: فَلَنَسْئَلَنَّ.. ووزن الأعمال: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ رغبهم في هذه الآية بقبول دعوة الأنبياء عليهم السلام عن طريق التذكير بكثرة نعم الله عليهم، وكثرة النعم توجب الطاعة.

التفسير و البيان
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ ليظهر امتنانه على عبيده بكثرة إنعامه عليهم، بأن جعل الأرض لهم مكانا وقرارا، وسلطهم أو أقدرهم على التصرف فيها، وأباح لهم منافعها، وسخر لهم السحاب والمطر لإخراج أرزاقهم منها، وجعل فيها رواسي وأنهارا.
وجعل لهم فيها معايش من وجهين: إما بخلق الله تعالى ابتداء كخلق الثمار وغيرها، أو بطريق العمل والاكتساب واتخاذ الأسباب والاتجار فيها، وكلاهما في الحقيقة إنما حصل بفضل الله وإقداره وتمكينه، فيكون الكل إنعاما من الله تعالى، وكثرة النعم لا شك أنها توجب الطاعة والانقياد.
ولكن أكثرهم مع هذا قليل الشكر على ذلك: قَلِيلًا ما تَشْكُرُونَ أي أنتم قليلو الشكر على هذه النعم التي أنعمت بها عليكم، كما قال: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لا تُحْصُوها، إِنَّ الْإِنْسانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ [سبأ 34/ 13].
وشكر النعمة: يكون بمعرفة الله المنعم معرفة تامة، وحمده والثناء عليه بما هو أهله، وأداء حقوق النعم وصرفها فيما خلقت من أجله، بأداء حقوق الله تعالى، واستعمال أعضاء الإنسان في مناحي الخير ورضوان الله وصرفها عن وجوه الشر والمعاصي، وبالشكر بهذا المعنى تدوم النعم ويسعد الإنسان. [إبراهيم 14/ 34]

النتيجة
أ‌-       الكفر على النعمة
ب‌-  النسيان على حقيقة النفس
Description: Description: C:\Users\user\Documents\dd.jpg


يَعْمَلُونَ لَهُ ما يَشاءُ مِنْ مَحارِيبَ وَتَماثِيلَ وَجِفانٍ كَالْجَوابِ وَقُدُورٍ راسِياتٍ اعْمَلُوا آلَ داوُدَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ (13)
﴿سبأ 34/ 13﴾
المناسبة
بعد بيان ما أنعم الله به على داود عليه السلام من النبوة والملك، ذكر تعالى ما أنعم به على سليمان من تسخير الريح له، حيث كانت تجري من الغداة إلى منتصف النهار مسيرة شهر، ومن منتصف النهار إلى الليل مسيرة شهر، وإذابة النحاس كإذابة الحديد لأبيه داود، وتسخير الجن لبناء القصور الشامخة وصناعة الجفان الكبيرة كالأحواض، والقدور الثابتة التي لا تتحرك لسعتها وكبرها. وهذه الأشياء الثلاثة تقابل الثلاثة في حقّ داود وهي تسخير الجبال الذي هو من جنس تسخير الريح لسليمان، وتسخير الطير الذي هو من جنس تسخير الجن لسليمان، وإلانة الحديد كإلانة النحاس لسليمان.

التفسير و البيان
ذكر الله تعالى في هذه الآيات نعما ثلاثا كبري أنعم بها على سليمان عليه السلام وهي:
أي وسخّرنا لسليمان الريح التي كانت تحمل بساطا له غدوها (أي سيرها وقت الغداة من أول النهار إلى منتصف النهار) مسيرة شهر، ورواحها (جريانها وقت الرواح من منتصف النهار إلى الغروب) مسيرة شهر.
قال الحسن البصري: كان يغدو على بساطه من دمشق، فينزل بإصطخر يتغدى بها، ويذهب رائحا من إصطخر فيبيت بكابل (في أفغانستان) وبين دمشق وإصطخر شهر كامل للمسرع، وبين إصطخر وكابل شهر كامل للمسرع. إذابة النحاس: وَأَسَلْنا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ أي وأذبنا له عين النحاس كما ألنا الحديد لداود، فكان يصنع منه ما يشاء دون نار ولا مطرقة. وسمي عينا، لأنه سال من معدنه سيلان الماء من الينبوع.
تسخير الجن: وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ، وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنا نُذِقْهُ مِنْ عَذابِ السَّعِيرِ أي وسخرنا له من الجن من يعمل لديه من المحاريب وغيرها، بأمر ربّه وقدرته وتيسيره وتسخيره إياهم لسليمان، ومن يعدل ويخرج منهم عن طاعة سليمان نذقه عذابا أليما من الحريق في الدنيا، أو من عذاب النار في الآخرة.
يَعْمَلُونَ لَهُ ما يَشاءُ مِنْ مَحارِيبَ وَتَماثِيلَ، وَجِفانٍ كَالْجَوابِ، وَقُدُورٍ راسِياتٍ أي يعمل الجن لسليمان ما يريد من الأبنية الرفيعة والقصور العالية والمساجد والصور المجسمة المصنوعة من النحاس أو الزجاج أو الرخام ونحوها، والصحاف أو القصاع الكبيرة التي تكفي لعدد كبير من الناس وتشبه حياض الإبل، والقدور الثابتات في أماكنها، لا تتحرك ولا تتحول عن مواضعها لعظمها وثقلها.
اعْمَلُوا آلَ داوُدَ شُكْراً، وَقَلِيلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ أي وقلنا: اعملوا يا آل داود بطاعة الله، شكرا له على ما آتاكم من النعم في الدين والدنيا، وقليل  من عبادي من يشكرني، فيستعمل جميع جوارحه فيما خلقت له من المنافع المباحة. والشكور: هو الذي يشكر في جميع أحواله من الخير والضرّ. كما قال تعالى: إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ، وَقَلِيلٌ ما هُمْ [ص 38/ 24] وهذا إخبار عن الواقع.
ورد في الصحيحين عن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم أنه قال: «إنّ أحبّ الصلاة إلى الله تعالى صلاة داود، كان ينام نصف الليل، ويقوم ثلثه، وينام سدسه، وأحبّ الصيام إلى الله تعالى صيام داود، كان يصوم يوما، ويفطر يوما، ولا يفرّ إذا لاقى» .
وأخرج مسلم في صحيحة عن عائشة رضي الله عنها «أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم كان يقوم من الليل حتى تفطّر قدماه، فقلت له: أتصنع هذا، وقد غفر الله لك ما تقدّم من ذنبك وما تأخر؟ فقال: أفلا أكون عبدا شكورا» .
وأخرج الترمذي عن أبي هريرة أن النبي صلّى الله عليه وسلّم صعد المنبر، فتلا هذه الآية، ثم قال: «ثلاث من أوتيهن فقد أوتي مثل ما أوتي آل داود، فقلنا: ما هنّ؟فقال: العدل في الرّضا والغضب، والقصد في الفقر والغنى، وخشية الله في السّرّ والعلانية» .
ومع هذه النعم وعظمة سليمان عليه السلام ذكر تعالى كيفية موته وتعميته على الجن المسخرين له في الأعمال الشاقة، فقال:
فَلَمَّا قَضَيْنا عَلَيْهِ الْمَوْتَ، ما دَلَّهُمْ عَلى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ، فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ ما لَبِثُوا فِي الْعَذابِ الْمُهِينِ أي فلما حكمنا على سليمان بالموت وألزمناه إياه، مات، وهو قائم متكئ على عصاه، ولم تعلم الجن بموته، وبقوا يعملون خوفا منه، ولم يدلّهم على موته إلا الأرضة التي أكلت عصاه من الداخل، فلما سقط بعد ما وقعت عصاه، ظهر للجن أنهم1- تسخير الريح: وَلِسُلَيْمانَ الرِّيحَ، غُدُوُّها شَهْرٌ، وَرَواحُها شَهْر ٌ لا يعلمون الغيب كما زعموا، ولو صحّ ما يزعمونه من أنهم يعلمون الغيب، لعلموا بموته وهو أمامهم، ولم يلبثوا بعد موته مدة طويلة في العمل الشاق الذي سخرهم فيه، ظانين أنه حيّ. أما المدة التي مكث فيها سليمان متكئا على عصاه فلم يرد خبر صحيح في شأنها، ونترك الأمر في تقديرها لله عزّ وجلّ، وربما يستأنس
بالحديث المرفوع الذي رواه إبراهيم بن طهمان عن ابن عباس وفيه: «أن سليمان نحت عصا الخرنوبة، فتوكأ عليها حولا لا يعلمون، فسقطت، فعلم الإنس أن الجنّ لا يعلمون الغيب، فنظروا مقدار ذلك، فوجدوه سنة» «1» .
قال الرازي: وقوله: ما لَبِثُوا فِي الْعَذابِ الْمُهِينِ دليل على أن المؤمنين من الجن لم يكونوا في التسخير لأن المؤمن لا يكون في زمان النبي في العذاب المهين «2» .

النتيجة
الكفر على النعمة
                Begitu menurut tafsir Al Munir.
“Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al A’raf [07]: 10)

a.  Munasabah
Ayat 10  surat Al A’raf  berbicara tentang betapa sempurnanya bumi tempat hidup yang telah Allah SWT ciptakan untuk manusia, sehingga tidak patutlah kita mendurhakai-Nya, akan tetapi sebab sempurnanya dan teraturnya nikmat yang Allah SWT berikan, manusia sampai lupa betapa besarnya nikmat kehidupan tersebut sehingga sedikit yang bersyukur kepada-Nya. Maka ayat ini adalah lanjutan dari ayat sebelumnya yaitu ayat 9 surat Al A’raf dijelaskan bahwa orang yang hidup tidak baik (penuh dengan kesalahan) berarti hidupnya kosong dan akan mendapat siksaan Allah SWT, ayat 9 ini sebagai penjelas dari ayat 10 menggambarkan bahwa dalam kehidupan, manusia yang tidak pandai bersyukur dan menyianyiakan nikmat-Nya maka hidupnya akan sia-sia.
b.  Tafsir
“Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan” (pangkal ayat 10). Mendengarkan bunyi ayat ini timbullah pertanyaan dalam hati manusia yang berpikir. Adakah patut dia mendurhakai kepada Allah SWT, padahal dia sebagai manusia telah diberi ketetapan hidup dalam bumi ini? Orang-orang yang lebih ahli dan telah menyelidiki lebih dalam betapa asal mula manusia diberi ketetapan hidup dengan bumi ini akan kagum mendengar ketentuan ayat ini. Dengan ukuran lebih tertentu dari matahari dan bulan,  manusia bisa mendiami bumi ini tempat hidup.
Menurut penyelidikan ahli-ahli dan penyelidikan mereka, yang baru diketahui sekarang, hanyalah bintang yang bernama bumi ini saja yang menyediakan hidup bagi manusia. Manusia tidak dapat hidup dalam matahari atau di bulan atau di bintang lain. Di bumi inilah manusia mendapat ketetapan hidup. Lalu dijadikan pula di dalam bumi itu berbagai ragam mata penghidupan. Di dalam surah Al-Baqarah (ayat 29) dijelaskan bahwa Dia telah menjadikan bumi untuk kamu apa yang  ada di atas bumi ini semuanya. Tetapi sebagaimana yang telah dinyatakan pada ayat 3 di atas tadi: “Sedikitlah kamu berterimakasih” (Ujung ayat 10).
Tidaklah terhitung betapa banyak nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia sehingga dia bisa menetap hidup dalam bumi ini. Matahari tak bersinar, tidak terlalu dekat, sehingga manusia mati kepanasan dan tidak terlalu jauh sehingga manusia mati kedinginan, dan tetap pembagian siang dan malam, sehingga manusia hidup tidak kacau. Air tetap ada untuk hidup, makanan dari hasil bumi selalu keluar, sehingga tidak mati kelaparan. Tetapi sayang, oleh karena terlalu banyak mendapat nikmat yang teratur itu, terlalu sedikit manusia yang insaf dan berterima kasih kepada Allah SWT dan terlalu banyak yang lupa, sehingga menempuh jalan yang salah. Sebab yang terutama ialah karena mereka tidak mau mengenal siapa dirinya, dari mana asal datangnya, mengapa dia sampai diberi ketetapan hidup di bumi. Kalau dia sadar akan hal itu, niscaya manusia akan berterimakasih kepada Allah SWT.

c.  Kesimpulan
Ayat tersebut mengajak manusia untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT dan manusia dalam kehidupan di bumi agar tidak mencapai puncak keringanan yaitu kufur.
 “Mereka kerjakan untuknya apa yang dia kehendaki dari mihrab-mihrab dan patung-patung dan kancah-kancah besar laksana kolam dan tungku-tungku tertegak. Bekerjalah keluarga Daud a.s. dalam keadaan bersyukur: tetapi sedikitlah daripada hamba-hamba-Ku yang bersyukur”( QS. AS Saba’ [34]: 13)

a.    Munasabah
Pada ayat 13 surah Saba’ berbicara tentang perintah bersyukur terhadap keluarga Daud a.s. yang telah banyak menerima kurnia Allah SWT seperti patuhnya jin-jin atas perintah  Nabi Sulaiman a.s. yang banyak membantunya dalam pembangunan di Istana, maka ayat ini adalah penjabaran dari ayat sebelumnya yang menjelaskan lebih detail berbagai macam nikmat yang diterima Nabi Sulaiman a.s. seperti tersedianya angin untuk kendaraan Nabi, proses pencairan tembaga dan lain-lain. korelasinya yaitu kedua ayat ini telah memberikan contoh betapa banyaknya nikmat yang telah Allah SWT limpahkan kepada manusia yang patut untuk disyukuri namun hanya sedikit dari kita yang benar-benar bersyukur.
b.    Tafsir
Mereka kerjakan untuknya apa yang dia kehendaki” (pangkal ayat 13). Tegasnya ialah bahwa jin-jin itu telah menjadi pekerja mengerjakan, membangun dan membuat apa yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman a.s. Mungkin karena tenaga manusia saja tidak mencukupi. “Dari mihrab-mihrab.”  Menurut kitab-kitab tafsir arti mihrab yang jama'nya mihrab bukan saja mihrab tempat orang shalat menghadap kiblat sebagaimana yang telah terpakai dalam bahasa Indonesia atau melayu sendiri.
            Menurut mujahid, maharib atau mihrab ialah bangunan besar yang menengah, di atas dari rumah biasa, dibawah dari gedung besar.
Adh-Dhahak mengatakan bahwa “maharib (mihrab) berarti masajid (masjid).”
Qatadah mengatakan: “maharib boleh diartikan gedung-gedung dan boleh diartikan masjid-masjid.”
Maka tugas utama dari jin-jin itu ialah mendirikan rumah-rumah tempat beribadah dan gedung-gedung yang indah sebab kerajaan Bani Israil telah besar dan Jerusalem telah menjadi pusat pemerintahan.
“Dan patung-patung.” Dari hal patung-patung ini tentu saja mendatangkan musykil di dalam hati orang, mengapa Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan membuat patung. Padahal agama tauhid yang dibawa oleh seluruh Nabi mengharamkan penyembahan berhala? Nabi Sulaiman anak Daud a.s. dan Dawud a.s. dari keturunan Bani Israil, yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. dan Harun a.s. mengharung lautan dan dibelahkan laut untuk tempat lalu mereka karena menghindarkan diri dari penyembahan berhala. Israil yang bernama juga Ya’kub a.s. anak dari Ishak a.s. dan Ishak a.s. anak dari Ibrahim a.s., yang terkenal menghancurkan berhala seraya meninggalkan berhala yang paling besar, dan ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu, Ibrahim a.s. menjawab bahwa yang menghancurkannya ialah berhala yang paling besar itu sampai Ibrahim a.s. dibakar, tetapi tidak diizikan oleh Allah SWT, api itu membakar dia. Dan Ibrahim a.s. pun keturunan dari Nuh a.s. Di dalam Al-Qur'an surah 71, surah Nuh sampai diterangkan nama-nama berhala yang dipuja orang dizaman Nuh a.s, yaitu Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasran, yang membawa manusia jadi sesat. (Lihat surah tersebut ayat 23 dan 24).
Mengapa Sulaiman a.s. menyuruh membuat patung-patung?
Teranglah bahwa pada masa itu sudah ada seni lukisan, patung-patung binatang, patung orang, patung burung-burung dan pohon-pohon, namun semuanya itu bukan intuk disembah, melainkan buat perhiasan. Gedung-gedung indah dihiasi dengan lukisan patung.
Abu ‘Aliyah mengatakan bahwa “di zaman itu patung-patung untuk perhiasan itu tidak terlarang dalam syari'at mereka.”
Kemajuan seni lukis demikian rupa, sehingga halaman istana dibuat dari kaca, sehingga dilihat dari jauh disangka air, padahal kaca. Sampai Ratu Balqis terkecuh melihatnya, sehingga ketika akan masuk ke dalam pengarangan istana disingsingkannya roknya sampai tersimbaah pahanya keduanya. Lalu ditegur oleh Nabi Sulaiman a.s. dengan senyum: “itu Cuma lantai istana yang licin saja, terbuat dari kaca!” (Lihat surah 27; an-Naml, ayat 44).
Dan sampai sekarang dibekas-bekas Istana Babylon di Irak masih kita dapati perhiasan dinding istana terbuat dari porselin indah merupakan binatang, warna-warni yang sangat halus buatannya.
“Dan kancah-kancah besar laksana kolam dan tungku-tungku tertegak.” Jin-jin itupun disuruh membuat kancah-kancah. Dalam bahasa Arab tertera dalam ayat disebutnya jifaanin = جِفَانِ , yang artinya tempat makanan yang dapat menyediakan untuk 1000 orang, lalu kita artikan kancah atau kalau banyak menjadi kancah-kancah. Tempat memasak makanan untuk orang yang banyak itu ada yang dapat memasakkan sekedar 100 orang, bernama kuali. Dan kalau sudah untuk beratus-ratus orang, misalnya 1000 orang dengan memasak makanan seekor kerbau, ada kancah yang dapat memasak untuk jamuan 1000 orang. Diumpamakan kancah itu aljawaabii = اَلْجَوَابِيْ, kata jam’ dari jabiyah, yaitu kolam untuk persediaan air. Maka kancah-kancah besar itu diumpamakan sebagai kolam-kolam persediaan air, karena besarnya. Di samping persediaan alat memasak makanan untuk orang banyak itu disediakan pula dan dibikinkan tungku-tungku besar yang sesuai dengan kancah-kancah itu. yaitu tungku yang telah ditanamkan dengan teguh, sehingga tidak bergoyang jika kancah-kancah tadi dijerangkan diatasnya. Nampaklah dari kedua keterangan ini bahwa jin-jin itu diperintahkan juga membuatkan kancah-kancah tempat memasak makanan orang banyak bersama tungkunya yang kuat yang tidak dapat dibongkar begitu saja. Ialah jadi bukti bahwa Nabi Sulaiman a.s. menyediakan alat-alat memasak makanan buat beribu orang. Dan ini dapat kita pahamkan karena Nabi Sulaiman a.s. sebagai ayahnya juga mempunyai tentara yang besar, untuk menjaga keamanan negara yang begitu luas. Menjaga keamanan dari serangan musuh yang dapat menyerbu dari luar atau pemberontakan yang timbul dari dalam negeri.
“Bekerjalah keluarga Daud a.s. dalam keadaan bersyukur” Artinya ialah bahwa setelah Allah SWT menguraikan berapa banyak karunia-Nya kepada kedua hamba-Nya yang beranak itu, Daud a.s dan Sulaiman a.s.; nikmat Kerasulan, nikmat Kenabian, nikmat kerajaan, nikmat keahlian, nikmat kesenian, nikmat dapat menaklukkan burung yang sedang terbang hanya dengan kemerduan suara bagi Daud a.s. dari nikmat memerintah jin dengan izin Allah SWT untuk Sulaiman a.s., sehingga luaslah kerajaan mereka dan besarlah pengaruh mereka, dan mendapat pula kelimpahan kurnia itu keluarga yang lain-lain, datanglah perintah Allah SWT kepada seluruh keluarga Daud a.s., baik diri Daud a.s. atau anak cucunya atau kaum keluarganya dekat dan jauh agar menerima seluruh karunia Allah SWT itu dengan syukur yang setinggi-tingginya dan bukti syukur itu hendaklah dengan bekerja. Bersyukur tidaklah ada artinya kalau hanya mengucapkan syukur dengan mulut, tidak dibuktikan dengan perbuatan.
Ayat ini memberi ingat seluruh orang yang beriman bahwa bekerja, beramal yang shalih itu adalah hakikat kesyukuran sejati. Kalau misalnya Allah SWT memberi kita nikmat dan karunia harta benda itu dengan jalan yang baik. kalau mendapat rezeki hendaklah syukuri dengan membelanjakannya untuk perbuatan yang halal. Kalau Allah SWT  memberi kita karunia ilmu pengetahuan, hendaklah syukuri ilmu pengetahuan itu dengan mengajarkannya pula kepada orang lain, agar diambil  faedahnya. Kalau  mempunyai setumpuh tanah, hendaklah tanami dengan baik dan keluarkan hasilnya.
Di ujung ayat Allah SWT berfirman: “Tetapi sedikitlah dari pada hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (ujung ayat 13). Sedikit hamba Allah SWT yang bersyukur, dilimpahi Allah SWT dia rezeki, tidak diingatnya orang yang patut ditolong. Dilimpahi Allah SWT di kebun yang luas, sawah berjenjang sebagai pusaka dari nenek-moyangnya, tidak diusahakan dengan baik. Dilimpahkan Allah SWT dia umur yang panjang, tidak disyukuri dengan beribadat kepada Allah SWT. Sebab itu Allah SWT berfirman bahwa yang benar-benar bersyukur menerima nikmat Allah SWT itu hanya sedikit.
Contoh bersyukur itu ditunjukkan oleh Nabi kita Muhammad SAW sendiri. Menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh Muslim dari Aisyah r.a. bahwa dia melihat Rasulullah SAW shalat malam (tahajjud) lama sekali, sampai pegal kedua belah kakinya. Lalu Aisyah bertanya: “Masihkah engkau berbuat begini payah, padahal dosa engkau yang terdahulu dan yang terkemudian telah diampuni Allah SWT” lalu Beliau menjawab:
أَفَلأَأَكُوْنُ عَبْدًاشَكُؤْرًا
“Apakah saya tidak akan menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh at Tirmidzi dari Abu Hurairah, pada suatu hari sedang di atas mimbar Rasulullah SAW membawa ayat 13 Surah Saba’ ini, lalu beliau menjelaskan:
ثَلأَ ثٌمَنْ أُوْتِيَهُنَّ فَقَدْ أُوْتِيَ مِثْلَ مَاأُتِيَ الَ دَاوُدَقَالَ: قُلْنَا مَاهنَّ يَا رَسُوْلَاللَّهِ؟ فَقَالَ: اَلْعَدْلُ فِيْ الرِّضَا وَلْغَضَبِ , وَلْقَصْدُفِيْ الْفَقْرِوَالْغِنِى وَخَشْيَةُ اللَّهِ فِيْالسِّرِّوَالْعَلأَ نِيَّةِ
“Adakah tiga macam, apabila telah dikurniakankepadanya samalah halnya dengan kurnia yang diberikan kepada keluarga Daud a.s., lalu Kami bertanya: “Mana dia ya Rasul Allah” Beliau menjawab.”Tetap adil, baik di dalam ridha atau di dalam marah, hidup sederhana baik dalam keadaan fakir(miskin) atau dalam keadaan kaya, takut kepada Allah SWT baik dalam keadaan sendiri (rahasi)atau dalam keadaan terang-terangan.”
Tersebutlah suatu kisah bahwa sedang Sayyidina Umar bun Khattab mengerjakan tawaf didengarnya ada seorang berdo’a di Multazaam dengan suara keras demikian bunyinya:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْقَلِيْلِ
               “Ya Allah! Jadikanlah aku di dalam golongan yang sedikit!”
Lalu setelah selesai tawaf, sayyidina Umar menyuruh panggil orang itu datang menghadap kepadanya, lalu beliau bertanya: “Mengapa begitu bunyi do’amu?
Dia menjawab: “Bukankah tersebut di dalam Al-Qur'an,”:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ(سبأ 13)
               “Dan sedikitlah daripada hamba-hamba-Ku yang bersyukur?”
Lalu serta merta Umar berkata: “Semua orang lebih alim dari engkau, hai Umar!”
c.    Kesimpulan
sikap syukur kepada Allah SWT yang perlu ditingkatkan dengan berapresiasi akan nikmat besar yang telah diberikan kepada kita baik itu kepada Allah SWT maupun manusia.

QS. Al Hajj [22]: 66
وَهُوَ ٱلَّذِى أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَكَفُورٌ(سورة الحاج/66:22)
“Dan Dialah Allah SWT yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sungguh manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj [22]: 66)

a.  Munasabah
Ayat 66 QS. Al Hajj [22] menjelaskan tentang sirkulasi kehidupan manusia berawal dari penciptaan kita di dunia hingga ajal menjemput kemudian dibangkitkan kembali pada hari kiamat, dan itu merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang patut disyukuri, ini merupakan lanjutan penjelasan dari ayat sebelumnya yaitu ayat 65 bahwa selama hidup di dunia, sebenarnya Allah SWT telah menyediakan kekayaan di bumi untuk manusia dengan mengatur keseimbangan alam, semata-mata bukti belas kasihan sang Pencipta kepada kita. Relevansinya terdapat pada kedua nikmat besar tersebut, namun manusia lupa dari mana asal mereka dan bagaimana akhir hidup ini yang membuat manusia menjadi kufur dan banyak yang mendurhakai Allah SWT (tidak bersyukur). 
b.  Tafsir
“Dan Dialah Allah SWT yang telah menghidupkan kamu,” (pangkal ayat 66). Artinya, daripada tidak ada kamu telah diadakan. Hingga hiduplah kamu sekarang di atas dunia ini dengan sadar akan adanya hidup itu. kamu duduk, kamu tegak dan berjalan, kamu berhenti “kemudian itu Dia mematikan kamu.” Sampai ajal nyawa pun cerai dengan badan, badan kembali jadi tanah, sebab asal dari tanah. “Kemudian Dia menghidupkan kamu (pula).” Hidup yang kedua kali ketika dibangkitkan kembali di hari kiamat. “Sungguh manusia adalah sangat mengingkari nikmat.”(ujung ayat 66).
Mereka lupa dari mana asal mereka dan bagaimana pula akhirnya hidup ini. Sebab itu mereka jadi kafir, yaitu sangat sekali tidak memperdulikan begitu banyak dan benar nikmat Allah SWT kepada mereka sebab itu maka hidup mereka di dunia tidak mempunyai arah!
c.  Kesimpulan
Peringatan bagi manusia agar tidak lupa dengan nikmat kehidupan dan penghidupan di dunia ini agar tidak menjadi kufur.

Begitu menurut tafsir Al Azhar.
 

66 komentar:

  1. Kalau boleh tulisan arabnya diberi sakal. Karena tak semua orang bisa membaca tulisan arab yang tak memiliki harakat atau sakal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. okeh ..insya Allah saya berpaiki..
      terima kasih mba saran nya :)

      Hapus
  2. teteh.... keren tulisannya seperti oki setiana dewi, terlihat banget dari tulisan teteh = sosok seorang Zahra "na". ehehe semangat teteh nulisnya, semoga bisa jadi penulis yg meninspirasi muslimah indonesia..

    BalasHapus
  3. teteh,,,,,
    penulisannya udah bagus, namun ada pengulangan kata ,,,
    tetap semangat teteh, good job sobat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah
      siip masuk, terima kasih rina masukannya

      Hapus
  4. hahahah, sekedar info aja buk,, saya sudah punya riwayat gatal kulit sejak kelas tiga aliyah, tepatnya setelah gungung kelud meletus, makin lama makin parah hingga pada puncak parahnya adalah malam sebelum UNAS dilaksanakan, setelah itu penyakitnya menurun. Mungkin ibuk masih ingatketika awal kita matrikulasi, lihat wajah saya yang dengan pipi tembem seperti orang yang gemuk, padahal perawakan saya kurus. Hal itu dikarenakan terlalu sering mengonsumsi obat gatal.
    Sekedar informasi lagi, obat gatal adalah salah satu obat untuk menggemukkan badan yang bagus. Sebagai bukti, beberapa peternak kambing menggemukkan ternak mereka dengan memberikan konsumsi obat gatal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe terima kasih nak infonya
      percayalah, yang memberimu penyakit itu Allah, yakinkan kesembuhannya kepada Allah...
      matur suwwun nggeh masukannya...

      Hapus
  5. Penggunaan kata sdh bagus tapi msh perlu dimasukkan ke dalam ruang editor. Hehhe.. Semangat teteh geulis. LANJUTKANN! !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah kayanya mba nisa nih calon editor internasional nya,,
      hehe
      terima kasih y mba nisa

      Hapus
  6. Memang kita disuruh untuk menulis apa yang ada didalam hati dan pikiran kita, tapi diperhatikan penggunaan tanda baca seperti (;). Apa gunanya.

    Semangat for your writing.

    BalasHapus
  7. Bagus dek... tapi lebih rajin lagi yah latihan menulis dan banyak membaca.. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kaka, makasih yah udah mau mampir...
      okeh ka, terima kasih support nya

      Hapus
  8. seperti kata pak Prof. edit lagi pengulangan kata yaa :) bagus lanjutkan!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah masih banyak pengulangan katanya yah...
      okeh siap diperbaiki, terima kasih fiska

      Hapus
  9. hallo rina.....
    ada sedikit masukan yahh dari aku, EYD-nya dong jangan dilupain dan juga tanda bacanya tolong diteliti lagi. ok

    secara keseluruhan sudah bagus kok tulisannya,
    SUKSES RINA....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe sepertinya ada yang salah alamat nih...
      never mind
      saran nya cukup pas buatku, thanks ya va...

      Hapus
  10. buat iva, , , woyyyy ini teteh zahra bukan rina, , ,
    teteh zahra, , , , tulisannya bagus, , trus berkarya teteh, , , , kayaknya teteh bakal jadi mbak asma nadia nih, , ,

    BalasHapus
  11. terus berkarya zahra.. kamu punya potensi besar...
    lanjutkan!

    BalasHapus
  12. singkat saja penulisan huruf besar lebih diperhatikan zahra komen balik

    BalasHapus
  13. kalau masalah isinya sih sudah tidak diragukan lagi, namun sedikit saran dari saya,, tlg di perhatikan rata kanan-kirinya dan juga font huruf nya
    agar lebih menarik minat pembaca... but, after all good luck zahra!!

    BalasHapus
  14. Tulisannya keren dek, dirapiin lg yaa!
    Tetap berkarya..
    Ditunggu postingan brikutnya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ka...sudah mau mampir...
      siiaapp...

      Hapus
  15. Saya memasuki ruang kelas 15 menit lebih awal karena saya ingin memuliakan kalian, lebih baik saya menunggu kalian daripada kalian menunggu saya. Waktu kalian nanti terbuang sia-sia. Hehe,_. Keep writing Zahra, terus membaca, membaca, membaca, dan menulis ya? Kutipannya jangan terlau banyak. :) Semagka...!!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ustadz, telah mengajarkan kami ilmu hidup...
      siip ustadz :)

      Hapus
  16. awal percakapan mesti huruf kapital ya zahra :)
    semangat, kita sama2 belajar...tulisanmu brilian! ;)

    BalasHapus
  17. Bismillah
    Jangan terlalu banyak kutipan yah.. Zahra pasti bisaa... Semangat menulissss

    BalasHapus
  18. Wehh....harus banyak2 membaca nih biar bnyk yg bisa ditulis....
    Semangat yhh...
    Saya rasa malas itu harus dilawan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiaaappp....rasa malasharus dilawan !!!!!
      thanks munir

      Hapus
  19. Subhanallah,,,bagus teh,,,saya cukup terkejut ketika melihat tulisan tetehh,,,,orang yang passionnya banyak berbicara ternyata bisa menulis sebanyak ini,,,,tetap semangat tetee,,,Abdullah tunggu tulisan tete selanjutnya,,,,
    Janganlupa koment punya Abdullah juga ya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih nanang udah mau baca tulisanku...
      siiapp insya Allah

      Hapus
  20. Bakat menulismu de.. luar biasaa trnyata, hebat cucu Abah Ma'sum Nawawi yg satu ini
    Kembangkan terus ilmunya de, tth tunggu d pesantren untuk sama sama menularkan ilmunya.. yuu semangaaattt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini semuakarena doa abah saat menimangku saat kecil :)

      Hapus
  21. Zahraaa penulisanmu ada yg mesti d edit lagi.. contohnya yg seharusnya "membacanya" malah "membecanya" trus "sebagai" malah "seagai". Hhe :) perbaiki yaaaaah :) semangat zahraaaa semangat menyebarkan ilmu :) dan truslah berkarya!! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe....maklum masih amatiran nihh...
      nuhun momiiihhh...

      Hapus
  22. Subhanallah,,, bacaan yang sangat menarik,,, namun tetap ingat teteh Zahra, seorang penulis pemula membutuhkan ketekunan, ketelitian dan pengorbanan yang akan membuahkan hasil yang memuaskan,,, Good Job

    BalasHapus
    Balasan
    1. hidup ini masih proses yaah Norma.
      terima kasih Norma selalu menjadi motivasiku menjadi lebih baik

      Hapus
  23. Pertama sekali terimakasih kepada Zahra karena telah memuat nama saya dalam tulisan supernya. Gaya penulisannya sudah lebih baik daripada waktu semester satu dulu. Peningkatan pesat telah dirasakan berkat guru kita yang selalu memaksa dan tentunya karena Zahra menyertakan Allah dalam setiap aktivitasnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis, seperti EYD (penulisan nama orang dsb), pemilihan diksi yang tepat dan alur cerita usahakan tidak membosankan pembaca. Selebihnya good job, saya yakin kamu bisa. Tetap berkarya dan ayo sukses bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah Zan, Allah telah mempertemukan kita dengan prof Ali.
      Ini semua juga berkat bantuan Moh Mizan Asrori sang Jurnalis internasional, terima kasih banyak zan...

      Hapus
  24. Ceritanya cukup bagus ra, tinggal penggunaan kata dan kalimat yg tepatnya saja agar cerita tidak terkesan seperti mendongeng. Kemudian juga penempatan tanda2 baca seperti koma, titik , dan spasi msh ada beberapa yg kurang pas.
    Saran: tingkatkan minat bacanya agar banyak perbendaharaan kata dan inspirasi yg luas.
    Kemudian jangan bosan buat terus menulis, sesekali cobalah kirim tulisan rara ke salah satu media, siapa tau lolos. Hehe
    Over all .. Kompor gas rara .. :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe siap bos..
      Insya Allah a, doain aja yah. semoga suatu hari bisa menjadi yang mantapks buangget :D
      Amiin...

      Hapus
  25. Ceritanya cukup bagus ra, tinggal penggunaan kata dan kalimat yg tepatnya saja agar cerita tidak terkesan seperti mendongeng. Kemudian juga penempatan tanda2 baca seperti koma, titik , dan spasi msh ada beberapa yg kurang pas.
    Saran: tingkatkan minat bacanya agar banyak perbendaharaan kata dan inspirasi yg luas.
    Kemudian jangan bosan buat terus menulis, sesekali cobalah kirim tulisan rara ke salah satu media, siapa tau lolos. Hehe
    Over all .. Kompor gas rara .. :-D

    BalasHapus
  26. Tteh berbakat untuk mnulis, walaupn mash ada bbrpa hal yg prlu d koreksi. Ttap terus berkarya dan menyebarkan ilmu, untuk manfaat umat :) Hammasah !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ane atas masukannya. makasih juga udah mau mampir :)

      Hapus
  27. Isi tulisannya cettaarr membahana badaiii..
    Peyajiannya bagus, pembaca kaya diajak baca novel yg isinya bnyak mngandung inspirasi kehidupan dan ilmu keagamaan.. bagi mahasiswa ngekost, ini kaya makan mie instan herbal, gak cuma jadi favorite dimakan, trnyata kaya akan gizi yg penuh manfaat, gak ngebosenin juga krena ada dialog, materi, trus curhatan dll.. bagus bagus.. 100 point..

    BalasHapus
  28. Pemilihan kata yang bagus. Pembawaan ceritanya juga hidup. Good job Zahra, keep writing ya, mabruk insyaallah :)

    BalasHapus
  29. terus menulis yaa... makin banyak nulis, makin bagus juga tulisannya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. zahra itu dari dulu banyak memberi inspirasi, semangat dari pengalaman dan ilmu yang dimilikinya... semoga sukses dunia akhirat..aamiin... see u tomorrow opahhh jadi makin kangennn...

      Hapus
  30. luar biasa.. ditunggu ya buku pertamanya :D

    BalasHapus
  31. Akhirnya baca tulisan kawanku jg :D keren opah, isinya menarik :) kalau bisa sblum di posting baca ulang pah biar gak typo hihhi kita belajar nulis bareng-bareng ya :D

    BalasHapus
  32. aamiin...
    nuhun teteh puput :)

    BalasHapus
  33. mantap zahra.....

    namun diperhatikan kembali ya tulisannya...

    BalasHapus
  34. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  35. perwajahan blognya masih kurang mengena zahra...

    BalasHapus
  36. Terus berkarya teteh zahra+na ditunggu buku terbitannya !!!.. oke.

    BalasHapus
  37. Semangat menulisnya teteh, ayo terus berkarya dan berkarya !!!

    BalasHapus
  38. Ditunggu karyanya biar bisa jadi lanjutannya film cinta suci ZAHRANA (ZAHRA Nisaul Azizah)
    Semangat melanjutkan kakak !!!

    BalasHapus
  39. jangan lupa komen balik yaak
    sitikhoirunnisawulandari.blogspot.com
    kamsahamnida teteh geulis

    BalasHapus